Selasa, 04 Desember 2012



Seuntai Hadiah Untuk Pengantinku


Langit mulai tak berjiwa. Meniupkan aroma keheningan pada  semesta, membangkitkan rasa kesepian pada gantungan rembulan dan menjinjing bintang yang kian tenang mengalir bagai telaga kautsar di alam surga. Seuntai  takbir, tasbih dan tahmid mengalun merdu bak nyanyian surgawi. Menemani sepertiga malam yang kian mensyahdukan jiwa-jiwa yang bertasbih
Andai Terfahami ada seseorang yang menunggu  di setiap sepertiga malam, pasti semua insan tak akan terlena dalam buaian mimpi yang lelapkan jiwa. Dia selalu menunggu. Dia selalu bersabar. Walau kau dan aku masih saja tak menemui nya dalam sujud. Sujud yang membalut perasaan cinta kasih seorang hamba pada pencipta nya.
“Lailahaillalah.” Dzikir Aisyah bergelora membelah langit.
Entah sudah berapa ribu kali bibir manis wanita sholeha ini melafalkan kalimat tersyahdu itu.
Kepalanya menunduk. Bibir nya pucat dan matanya berlinangan air mata.
Malam itu dia benar-benar menyerahkan jiwa raga nya pada sang khalik. Raja di atas raja. Hakim di atas hakim. Penguasa rasa cinta, rindu, kasih dan ikhlas di bumi ini.
Siapa lagi kalau bukan Allah !! dzat yang di rindukan nya sepanjang mas`. Dzat yang di dambakan nya dapat dia tatap langsung di surga. Dan dzat yang di jadikan nya batu bersandar ketika masalah mengutuk perjalanan hidupnya. Karena bagi nya, dia hanyalah sekuntum bunga tulip di antara berjuta mawar yang menaungi taman kehidupan. Walau bagi orang lain dia lah mawar di atas mawar dan Tulip di atas tulip.
Yah…seyogyanya dia adalah seorang gadis yang sangat cantik, soleha, mempunyai agama yang baik, berakhlak mulia, bermata indah, berlesung pipit, dan taat kepada perintah Allah.
Dia lah kembang pondok pesantren Al-amin parenduen sumenep yang kini menjadi buah bibir di kalangan santri putera dan masyarakat di sekitar pesantren.
Bagaimana tidak, selain keindahan fisik yang begitu menawan, dia juga sangat pintar. Dia terkenal sebagai “KHUFFADZ”  atau dengan kata lain dia mampu menjadi wanita yang menghafal isi dan ayat-ayat terindah alquran. Bukan hanya itu. Dia juga satu-satu nya wanita yang mampu menghafal AL-FIAH dalam waktu satu bulan.
Sungguh wanita yang luar biasa! Namun di balik semua itu tak pernah sedikitpun ada rasa sombong merasuki hatinya. Dia tetap rendah hati, layak nya wanita biasa yang tak memiliki kelebihan apapun. Itu lah aisyah. Yang dengan senyumnya mungkin seluruh kaum adam akan rela di madu demi mendapat kan cintanya.
Malam masih terasa pekat. Bergelanyut manja bersama fajar shodik yang sebentar lagi akan tergores di langit. Dia bangkit dari simpuhnya. Berdiri tegak dan segera melaksanakan sholat istikharah. Rupanya Dia ingin mencari jawaban atas masalah hidup yang kini mendera nya. Masalah yang tak pernah terfikir akan menghunus Ulu hatinya. Setelah usai dia lalu membaca doa dan segera merebahkan tubuh untuk tidur seperti yang di anjurkan dalam agama.
Fajar sodhik kian menyinsing di peraduan langit. Adzan sholat subuh pun berkumandang dengan  merdunya. Aisyah yang sedang terlelap mulai tersadar mendengar alunan suara adzan yang sangat indah. Beda sekali dari biasanya.  hal itu membuat ia terbangun seraya coba menerka siapa yang sedang menyenandungkan adzan seindah itu.
“Masya Allah ! siapa yang adzan?” gumam batin nya.
Dia melihat ke sekeliling . Rupanya seluruh santri puteri juga sudah bangun . Mereka berkumpul. Entah ada apa ? tapi aneh sekali karena mereka tidak langsung mengambil wudhu untuk bersiap-siap sholat subuh. Aisyah melangkah mendekati santri puteri yang lain. Dia menerobos dan bergabung bersama kerumunan itu.
“Assalamualaikum ukhti. Ada apa ya ? koq rame banget.?” Tanya nya.
“walaikum salam. Nggak ada apa-apa ! kami Cuma lagi heran saja mendengar suara adzan yang sedang berkumandang itu. Siapa ya kira-kira ??” Jawab salah satu teman aisyah.
Aisyah menjadi terdiam. Matanya kosong sekali. Mungkin dalam diam nya, aisyah mencoba mencari tahu siapa yang sedang adzan di masjid itu. Apakah Ali? Seorang santri putera yang sering adzan apabila farid yang merupakan ketua masjid sekaligus muadzin utama absen untuk mengumandangkan adzan. Rasanya bukan. Karena suara ali atau pun farid tidak semerdu itu. Tapi siapa ? apakah santri baru ? Pertanyaan-pertanyan seperti itu tumbuh melahirkan sebuah rasa kagum pada muadzin misterius yang kini sedang asyik memanggil jiwa-jiwa yang terlelap. tiba-tiba hati nya bergetar hebat ketika muadzin mengalunkan sholawat badhar sebagai candu untuk menghinotis seluruh santri agar segera datang melaksanakan sholat subuh. Tak terasa air matanya meleleh ketika suara muadzin tersebut semakin pilu mendendangkan shalawat kesedihan. Suara yang benar-benar indah dan merdu. Suara yang menandakan betapa ikhlas nya dia menjadi budak Allah. Suara yang mengisahkan pilu nya hati sepilu ketika rasulullah kehilangan siti kahadijah. Suara yang begitu gigih segigih perjuangan siti Zulaikha untuk mendapatkan cinta nabi yusuf As. Dan suara yang begitu mengilhami sebuah perasaan baru yang mulai tumbuh di hati aisyah.
“Aisyah !! kamu kenapa menangis?” suara teman nya membuat lamunan nya buyar.
“ehh,,ahh,, a a a aku tidak apa-apa!” jawabnya terbata.
“ ya sudah ayo cepat kita ke masjid sebelum kiai Abdullah datang untuk mengimami sholat “!!
“Oh iy ,,ayo !!”
Mereka lantas mengambil wudhu untuk selanjutnya sholat berjamaah di masjid.
Selesai sholat Aisyah tak langsung beranjak Dari masjid Baitur-rahman. Dia masih bersimpuh seraya berdoa agar masalah yang kini didera nya menemukan jalan keluar. Sungguh lemah batinnya apabila dia mengingat kembali surat yang di kirim kan orang tua nya. Surat yang tidak pernah dia harapkan selama ini. Surat yang begitu menyakitkan dan surat yang seakan menghancurkan berjuta mimpi nya selama ini. Disela kegundahan nya yang tak bertepi. Dia kembali mendengar suara yang tadi membuat nya meneteskan air mata. Suara itu kini sedang melantunkan ayat-ayat suci al-quran. Sungguh sangat merdu dan syahdu, semerdu suara nabi daud As jika beliau masih bertahta di bumi ini.
Sebenarnya dia ingin mengintip dari balik tirai untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. Namun batin nya menolak karena hal itu di larang oleh undang-undang pesantren. Tak ayal dia hanya mampu menghayati dan mendengar sayup-sayup suara itu tanpa tahu siapa pemilik nya.
Aisyah kembali harus menagis pilu ketika mendengar suara tersebut kini sedang melantunkan ayat  As syura ayat 83.



. (Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah (agar aku menjadi orang yang bijaksana) dan pertemukanlah aku dengan orang-orang yang shaleh”.

Sungguh ayat yang sangat sarat dengan sejuta makna. Ayat yang juga merupakan sebuah doa bagi orang-orang yang mendambakan kekasih sejati. Begitu juga yang kini di rasakan aisyah. Gadis bermata indah itu sangat mendambakan kekasih yang kelak bisa menjadi imam bagi nya. Menjadi dermaga dalam pelayaran cinta nya. Dan menjadi tempat terakhir dimana dia akan mencurahkan seluruh jiwa raga nya. Namun semua terasa buyar apabila dia mengingat  kejadian tiga hari yang lalu. Dimana dia yang baru  saja selesai mengaji menerima surat dari ibu nya.

Assalamualaikum Wr.Wb
Kepada : anak ku tercinta
Siti aisyah.


Salam sayang sesayang Nabi Ibrahim kepada puteranya nabi ismail. Salam rindu serindu nabi sulaiman kepada permaisurinya ratu Balqis, dan salam cinta secinta Baginda rasulullah kepada puteri nya Fatimah az Zahra.
Berjuta doa ibu haturkan kepada ALLAH SWT. Agar  puteri ibu siti aisyah selalu dalam lindungan rahmat Nya. karena hanya dialah permata hati yang selalu menjadi kebahagiaan keluarga.
Anak ku aisyah yang sangat ibu cintai. Maaf apabila kedatangan surat ini sedikit membuat warna berbeda di hatimu. Namun ada suatu hal yang harus ibu sampaikan. Dan hal ini bersangkutan langsung dengan mu. jadi besar harapan ibu agar kau juga tahu dan menimbang-nimbang akan hal ini.
Aisyah. Alhamdulillah sekarang keadaan ayah mu semakin membaik. Apalagi setelah operasi minggu lalu, beliau kini sudah mulai bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala. Walau penyakit tumor nya menurut dokter sewaktu-waktu masih akan kambuh apabila tahap pengobatan nya berhenti di tengah jalan. Namun yang menjadi masalah bukanlah itu. Melainkan biaya untuk pengobatan ayah mu yang di dapat dari berhutang kepada Pak Bastian kini berubah menjadi sebuah tawaran. Tawaran yang mungkin akan membuat mu tidak bahagia.
Tawaran itu adalah pak Bastian ikhlas apabila hutang sebesar 30 juta itu tidak di bayar asal kau mau menjadi isteri dari putera semata wayang nya Muhammad Ikhsan karena menurut beliau puteranya itu sangat mencintai mu setelah mendengar cerita dari teman nya bahwa kau wanita yang soleha.
Tapi apabila tidak. Maka mau tidak mau kita harus tetap membayar hutang kepada beliau.
Mungkin ini adalah sebuah pilihan yang sangat berat. Namun ibu berharap kamu bisa memahami keadaan ibu dan ayah mu karena demi ALLAH semua harta kami telah habis untuk biaya pengobatan ayah mu. Jadi ibu mohon kamu bisa mengerti.
Mungkin hanya ini yang dapat ibu sampaikan kurang lebihnya ibu minta maaf.
Wassalam.


Detak jantungnya seakan berhenti ketika dia menutup surat. Suasana terasa berubah dari indah menjadi mencekam. kekecewaan yang mendalam pun akhirnya menguasai hati nya.
Tak pernah dia bayangkan jika perjalanan hidup nya harus berakhir seperti siti nurbaya. Yakni menikah dengan pria yang tidak dia ketahui apalagi dia cintai. Walau di sisi lain sebenarnya dia sangat iba pada keadaan kedua orang tua nya.
Matahari sudah setengah menanjak di dermaga langit. Aisyah yang masih tak bergeming akhirnya memutuskan untuk kembali ke asrama puteri. Dia tapaki nya bumi yang terasa tak adil pada perjalanan cintanya. Padahal dia sama seperti yang lain, ingin bahagia dengan orang yang dia pilih bukan yang di pilihkan orang lain. Di tengah perjalanan nya, dia kembali ingat kejadian tadi subuh. Dimana suara merdu seorang muadzin mampu memikat dan melahirkan sebuah rasa. Rasa yang tak pernah ia alami sebelumnya. Rasa aneh dimana rasa kagum bercampur dengan detakan jantung yang kencang setiap mendengar alunan merdu suara muadzin misterius itu. Apakah dia jatuh cinta ?? entahlah hanya waktu yang mampu menjawabnya. .Karena dia sebentar lagi akan di khitbah orang lain
@#$%%^&(!@@#$$%%
Empat hari telah berlalu. Aisyah yang sedang termenung di panggil ketua pondok karena ibu nya menelpon.
“Hallo Assalamualaikum”  ! salam ibunya
“ iya waalaikum salam. ! jawab aisyah
“ Nak ibu mau menanyakan sesuatu.”
“sesuatu apa bu”??
“Pak bastian kemarin berkunjung kerumah dan menanyakan akan jawaban atas tawaran nya. Ibu t`k tau harus jawab apa, makanya sekarang ibu menelpon mu untuk mendengar jawaban mu.”
Aisyah diam seribu bahasa. Dia tak mampu berkomentar apapun. Sebelah hatinya merasakan iba yang sangat mendalam pada ke dua orang tua nya, namun sebelah hatinya lagi terbang melayang bersama pemilik suara merdu yang telah membuat dia beberapa hari tak mampu memejamkan mata. Rupanya dia benar-benar jatuh hati kepada pemuda bersuara syahdu itu. Hingga dia merasa ragu untuk menunaikan kewajiban nya yaitu berbakti kepada ke dua orang tua nya.
“Aisyah,,kenapa kamu diam nak?” tanya ibunya lembut.
“ahhh,,,ehh,, aisyah gak apa-apa koq buk.” Jawabnya lirih
“Nak. Ibu dan ayah mu tidak memaksa agar kamu menerima tawaran itu. Ibu menyerahkan semua keputusan padamu. Jika itu baik menurut mu jalanilah, namun jika sebaliknya. Jauhilah.”
“enggak koq bu, aisyah mau menerima tawaran itu !” ucapnya seraya menahan air mata yang jatuh karena dia harus mengubur perasaan pada pemuda bersuara merdu itu.
“benar kamu menerima nya?” selidik ibunya memastikan.
“ iya bu.” Jawab aisyah parau.
“Ya sudah jikalau begitu. Ibu akan segera  memberi tahu  pak bastian sekalian akan menentukan waktu yang baik untuk menentukan tanggal pernikahan kalian.”
Telepon tiba-tiba terputus sebelum keduanya bicara banyak. Namun hati aisyah seakan tertusuk belati karena sebentar lagi dia benar-benar akan menjalani hidup dengan orang asing yang tak pernah dia kenal.
!#$%^&*@$%^&

Langit berganti warna, dari cerah menjadi mendung. Malam berganti suasana dari indah menjadi kelam. Begitu juga hari semakin jauh meninggalkan kisah yang tersisa. Aisyah yang mendapat kabar bahwa tanggal pernikahan nya ialah seminggu setelah liburan pesantren menjadi sangat gelisah. Bagaimana tidak dua hari lagi liburan pesantren akan tiba namun sedikit pun mental dan batin nya belum siap untuk menerima semua itu. di tambah lagi telah beberapa hari ini dia tidak mendengar pemilik suara merdu itu adzan di masjid, entah ada gerangan apa namun hal itu sungguh membuatnya sangat gelisah.
Siang malam dia hanya mampu menagis dan mengadu kepada Allah. berharap jika jalan yang akan di laluinya adalah jalan yang terbaik. sampai tak terasa liburan pesantren telah berlalu pula berganti pesta pernikahan yang besok pagi akan digelar di kediaman nya.
Malam hari nya aisyah kembali menangis. Walau besok adalah merupakan hari sakeral namun bagi nya besok ialah hari kiamat yang akan meruntuhkan bumi cinta nya. Dia sempat berfikir untuk mengakhiri hidup namun agama yang kuat serta berkah dari ayat-ayat alQuran yang dia hafal membuat semuanya tak terjadi. Dalam pergolakan batin yang sangat membara, dia hanya bisa pasrah jika esok hari adalah sebuah nikmat bukan sebuah murka dari Allah.
!@#$%^&@#$%%

Pagi yang cerah menaungi bumi. Bunyi petasan dan suara tawa bahagia meliputi seluruh isi rumah. Anak-anak kecil berlarian riang seolah membawa puisi keindahan untuk sang permaisuri Siti Aisyah dari sang pangeran muda Muhammad Ikhsan. Para tamu undangan pun sudah hadir semua termasuk Kiai Abdullah selaku pengasuh pondok pesantren Al amien. Semuanya tampak bahagia dan riang. Tapi lain hal nya dengan Aisayah. Wanita soleha itu sungguh tak sanggup menahan kesedihan nya, dia terus menangis walau kini dia telah berada di hadapan penghulu. Semua orang di buat terheran-heran terlebih Ikhsan pemuda ganteng itu menjadi sangat sedih dan kasihan pada calon pengantinya. Ingin rasa nya dia batalkan pernikahan itu agar aisyah bisa bahagia. Dia lebih baik kecewa dari pada melihat orang lain yang kecewa. Akhirnya di sela tangis aisyah yang tak kunjung jua reda, dia beranjak dari hadapan penghulu. dia ambil microphone dan berucap sambil menahan lelehan air mata.
“Aisyah aku tak pernah bermimpi untuk memiliki mu karena aku tau kau tak mungkin mencintaiku. namun satu hal yang harus kau ketahui bahwa aku rela melepasmu jika kau memang benar-benar menginginkan nya. sungguh aku lebih ikhlas kau bahagia dengan orang lain  daripada aku yang bahagia di atas tangisan mu. jadi aku tak akan pernah memaksakan mu untuk menerima ku sebagai pendamping hidup mu. Tapi sebelum semua itu terjadi . kumohon izinkan aku memberikkan sesuatu pada mu. Sesuatu yang jauh sebelum hari ini aku persiapkan sebagai hadiah pernikahan kita. Sesuatu yang hanya aku berikan pada orang yang akan menjadi nafasku walau sebentar lagi semua itu akan tak berlaku karena aku tak ingin melihatmu menangis lagi !!”
Ikhsan kemudian mengambil Alquran dan membacanya . Dia membaca surah As Syura. Pedih sekali suaranya sepedih perasaan nya yang kini tak menjadi pilihan hati aisyah. Sampai di ayat 83:

. (Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku Hikmah (agar aku menjadi orang yang bijaksana) dan pertemukanlah aku dengan orang-orang yang shaleh”.

Suara Ikhsan semakin pedih sampai-sampai kiai Abdullah dan seluruh para undangan menitikkan air mata. Namun tidak untuk aisyah. Gadis yang sejak tadi menangis tanpa henti itu kini menjadi terkejut karena dia merasakan ada kesamaan antara suara Ikhsan dengan suara muadzin yang beberapa waktu lalu mengisi hatinya. Apalagi ketika dia sadar bahwa ikhsan membaca surah As-syura. Dan bukan kah dulu muadzin itu juga membaca ayat ini. Aisyah jadi tergetar hatinya. Tiba-tiba langit seakan menghujan kan perasaan cinta yang sangat mendalam kepada aisyah. Di rasakan nya pula ilham kasih dan cinta merasuk perlahan melalui pori-pori kalbunya. Keraguan dan kesedihan yang sejak tadi menghantui hati nya pun kini berganti dengan keyakinan dan kebahagiaan karena orang yang di kagumi dan di cintai karena suaranya mungkin adalah ikhsan lelaki yang mempunyai hati besar untuk mengikhlas kan dirinya.
Setelah selesai. Ikhsan kembali ke depan penghulu. Dia menatap aisyah Berharap ada sedikit cinta yang bisa dia dapat. Aisyah memberanikan diri membalas tatapan ikhsan dan betapa senang hati ikhsan ketika di lihat nya aisyah tak lagi menangis. Tiba-tiba aisyah berucap sambil tersenyum pada ikhsan.
“ Terimakasih atas hadiah nya ! tapi sayang nya hadiah itu sepertinya pernah aku dengar!”
“kapan ??” Tanya ikhsan kaget.
“ketika kamu membaca nya di masjid Baitur-rahman pondok pesantren al-amien setelah sholat subuh. Benar kan?”
“koq kamu tau”?
“karena sejak pertama kali mendengar suaramu waktu adzan dan mengaji aku langsung mencintaimu!” Ucap aisyah yakin. Mata mereka beradu dan dunia seakan milik berdua.
“Jadi sekarang bagaimana?” tanya ikhsan ragu-ragu.
“ehhhmmmmmm Aku siap menyerahkan jiwa dan raga ku untuk menjadi isteri sekaligus makmum bagi mu”.
Mereka sama-sama tersenyum dan surah as-Syura menjadi saksi cinta mereka.



Ada kekasih yg membuktikan cintanya dengan jutaan kalimat ,pujian dan rayuan.
Adapula dengan sikap nan penuh kasih
Tak sedikit dengan pengorban`n yangg meluluh lantakkan harga diri
Ada pula dengan menguras tenaga dan materi.

Namun bagiku, aku mencintaimu dengan menundukkan wajahku padamu,
bukan karena ku ingin berpaling darimu
Tapi karena aku ingin menjaga pandanganmu dari panah-panah iblis.

Aku mencintaimu dengan tidak melemah lembutkan suaraku padamu,
bukan karena aku ingin menyakitimu
namun karena aku ingin menjaga hatimu dari bisikan syaitan yang menipu.

Aku mencintaimu dengan menjauh darimu
Bukan karena aku membencimu,
namun karena ku ingin menjagamu dari khalwat yang menjebak.

Ku mencintaimu dengan menjaga dirimu dan diriku
Menjaga kesucianmu dan kesucianku
Menjaga kehormatanmu dan kehormatanku
Menjaga kebeningan hatimu dan hatiku.

Aisyah... Ana  Uhibbu Ilaiki !