Rabu, 17 Oktober 2012

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Bismillahirahmanirrahim

Wahai kekasih yang telah sejuta tahun aku dambakan.
Kali ini biarkan aku berbisik manja dalam tahajjudku
Mengharap agar kelak kau halal bagiku
Dan menyelamatkan hatimu dari sulaman benang syaitan yang butakan jalanmu
Demi Allah aku mencintaimu karena tak mau kufur atas nikmatnya
Nikmat yang tidak bisa kita atur jalan nya.
Hingga hati ini seakan menjadi bingkai atas sejuta cinta  yang karena ALLAH
Langit bermuram durja. Meski bintang tetap bergantung di langit. Malam seakan mencekam walau sejuk malam menciptakan aroma keindahan. Ku tanya langit kenapa ? ia tak menjawab. Kutanya malam kenapa ? ia tak menjawab pula. Sebenar nya kenapa dengan mereka? Apa mereka ikut hanyut dalam kegalauan yang kini aku rasakan. Atau mereka hanya berduka karena sebentar lagi mentari akan terbit.
Ketika keraguan menyihir langkahku. Ku paksa harap ini bangkit dari kiamat sugro yang tenggelamkan iman. Aku berdiri tanpa harap. Ku pandangi sebuah foto yang ku pajang besar di lemariku. Ku lihat senyum nya begitu manis, semanis madu. Ku tatap wajah baby face nya yang tak ayal buat ku bodoh lagi.
Yah aku memang bodoh. Bodoh karena tak mampu ungkap perasaanku. Bodoh karena lagi-lagi aku tak mampu mengcover hatiku dari kaum hawa. Padahal sejak pertama kali aku menginjak kan kaki di kota ini untuk kuliah, aku telah bersumpah untuk menutup perasaan ku dalam-dalam dari wanita.
Tapi, Semenjak pertemuan pertama di acara Ospek dengan seorang wanita berjilbab putih yang mampu getar kan hatiku. Sedikit pun mataku tak mampu untuk ku pejamkan. Karena semakin ku pejamkan cahaya matanya yang syahdu akan semakin meluluh lantakkan semua pondasi komitmenku.
Aku melangkah keluar kamar. Menysiri tangga dan Naik ke atas atap rumah. Aku duduk bagai pungguk bodoh yang merindukan bulan. Mataku tak lepas memandangi bulan sabit malam ini. Mungkin aku ingin mengubah sebuah kutukan di hidupku, yang menyatakan bahwa aku hanyalah seokor pungguk dan seluruh wanita di dunia ini adalah bulan.
bukan tanpa alasan semua ini terkutuk di takdirku. Semua berdasar pada apa yang aku miliki. Karena aku hanya lelaki biasa yang tak memiliki apapun.
Jangan kan harta melimpah untuk makan saja kadang aku harus menjadi pengamen di jalanan. Sungguh miris ! Dan semua itu menjadi sempurna dengan keadaan fisik yang pas-pasan serta otak yang ku fikir nol.
Tapi kenapa sekarang aku malah jatuh hati pada seorang wanita ? kenapa ?
Apa aku tidak pernah berkaca siapa aku ? apa aku tak pernah mengukur kulitas ku?
aku hanyalah lumpur kotor yang meski di daur ulang tak akan menjadi sesuatu yang berharga. Kenapa begitu gila nya aku? padahal aku tak memiliki apapun yang dapat di banggakan selain cinta dan sayang yang menjulang tinggi. akhh sungguh hal yang sangat bodoh.!!
Aku tergagap ketika sayup-sayup adzan subuh membuyar kan lamunan ku. Aku beristghfar lirih karena telah berfikiran seperti orang tak berpendidikan. padahal aku telah semester dua. Apa masih Pantas kah aku berfikir seperti itu??jika masih, berarti aku sama saja tidak bersyukur atas apa yang Allah berikan pada Ku. dan Atas apa yang Allah tuliskan dulu di zaman azali.
aKu  putuskan untuk sholat subuh dulu. Baru setelah itu langkah demi langkah akan ku tempuh untuk pecah kan kegundahan ini.
Usai sholat ku ambil secarik kertas dan kutulis kan semuanya disini.
Bismillahirrohmanirrohim
Teruntuk engkau yang aku cintai.
Ketika kau masih tak mampu menghalalkanku.. Ijinkan aku berbicara tentang cinta padamu.
Wahai yang aku cintai.
Sesungguhnya kata kata cintamu tak menjadi mata air yang jernih di padang sahara hatiku, tetapi justru menjadi percikan api yang setiap saat mampu membakar diriku.
Membakar rindu yang seharusnya untuk Rabb-ku.
Membakar cemburu yang seharusnya untuk Rabb-ku.
Membakar semangat yang seharusnya hanya karena Rabb-ku..
Wahai yang kucintai.
Ungkapan perasaanku tak membuat bunga-bunga di taman hatiku merekah. Tetapi justru membuat bunga itu layu sebelum mekar. Duri-duri bunga itu seketika tumpul. Lemah dan tak mampu lagi melindungi sari bungaku..
Wahai yang aku cintai.
Sungguh kata- kata cintamu setajam pedang  umar bin khatab yang siap menebas apapun. Tidak-kah kau ingin mengalihkan pedangmu itu untuk menebas ku. Tidak-kah kau ingin mengalihkan pedangmu itu untuk menebas nafsu dan gejolak hati yang kini meresahkan jiwaku ? hingga membuatmu menganiaya diri ku sedemikian rupa.
Wahai yang aku cintai.
Aku bukan malaikat yang tak memiliki hawa nafsu. Aku hanyalah manusia biasa yang juga menginginkan cinta. Kehadiranmu kuakui memang mampu memberi sebuah warna. Tapi entah mengapa itu jugalah yang membuatku tersiksa. Bukan aku tak mampu menghargai apa yang kau rasa. Tapi bukankah dengan begitu aku akan gagal mempertahankan hatiku yang selalu ingin terjaga.
Wahai yang ku cintai.
Tidak-kah kau ingin cinta itu sesuci cintanya Ali dan Fatimah ?
Dalam diam mereka mencinta.
Dalam rindu mereka berdo’a.
Jika karna cinta kau mampu menjadi seorang pujangga. Tidakkah kau ingin mempersembahkannya kepada cintamu yang sesungguhnya .. Allahu Rabbi.  tak tahukah kau bahwa cemburu-Nya teramat luar biasa.
Wahai yang aku cintaI.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Ya Allah, seandainya telah Engkau catatkan dia milikku dan tercipta buatku, satukanlah hatinya dengan hatiku, titipkanlah kebahagiaan antara kami, agar kemesraan itu abadi.
Tetapi Ya Allah, seandainya telah Engkau takdirkan Dia bukan milikku, bawalah dia jauh daripada pandanganku, luputkanlah dia dari ingatanku dan peliharalah aku dari kekecewaan.
Ya Allah Ya Tuhanku yang Maha Mengerti
Berikanlah aku kekuatan.
Menolak bayangannya jauh ke dada langit, Hilang bersama senja yang merah. Agar aku senantiasa tenang, Walaupun tanpa bersama dengannya. Pasrahkanlah aku dengan takdir-Mu.
Ya Allah aku mencintai nya Karena MU dan aku ikhlas merelakan nya karena Mu pula.

          Alhamdulillah. Mungkin ini jawaban atas doaku selama ini. Aku yang tak mampu bicara apapun di hadapan nya akan mencoba membuka tirai hatiku melalui surat ini. Semoga dia faham akan hatiku yang selama ini menyukai,menyayangi,mengagumi dan mencintai nya.  Alhamdulillah ya Allah .
          Hari ini hari minggu jadi tak ada jadwal kuliah. Sebenarnya aku ingin memberikan surat ini padanya pagi ini, tapi karena takut terlalu mendadak maka ku urungkan niatku. Biarlah nanti sore aku kerumah nya agar semua rasa gelisah yang mendera jiwaku punah dengan jawaban dari nya.
          Matahari beranjak seakan lama sekali. Detik demi detik ku tunggu. Menit demi menit ku n anti namun sore yang ku damba belum juga tiba. Aku yang iseng memutusan untuk pergi ke Perpustakaan umum untuk membaca buku. Baru satu rak buku yang ku cari, tiba-tiba pandangan ku tertuju pada seorang gadis mungil, dengan jilbab kuning membalut mahkota nya.
“Mbak Sinta”!! tegur ku pelan.
“ Eh De’ Angga !!” jawabnya.
“Udah lama mbak?” tanya ku.
“ baru saja dek,,eh koq gak ngajak-ngajak sie kalau mau kesini”? tanya nya balik.
“Emhhhh,,,ammmhhh,,,” aku tak tau harus menjawab apa. Karena setiap aku menatap mata dan senyumnya. Aku menjadi bodoh dan diam seribu bahasa. Entah kenapa tapi aku syukuri semua ini karena rasa ini dari Allah. Bukan kah orang yang mengkufuri nikmat NYA akan mendapat adzab.
“Koq diam kamu dek”? suara mbak Sinta buyarkan lamunan ku.
“ehh..ahhh enggak apa-apa koq mbak, saya Cuma ingat sesuatu” jawab ku berdalih.
“ Sesuatu apa dek?”
“Ahh gak penting koq mbak.. yang penting sekarang apa boleh saya duduk disini?” aku menunujuk kursi di samping nya seraya tersenyum.
“oh iya boleh-boleh”. jawab mbak sinta senang.
Langit belum juga mendung tapi hatiku telah gerimis akan perasaan cinta. Duduk di samping mbak sinta sungguh benar-benar membuat ku gelisah. Antara perasaan takut bercampur bahagia. Akhh andai dia tau bahwa aku sangat mengidolakan sekaligus mencintainya. Pasti semua akan berbeda.
Tiba-tiba ada perasaan aneh yang menyusup ke kalbuku. Yakni perasaan takut jikalau dia tau hatiku. Perasaan takut jika dia juga menolak perasaan ku. Padahal andai dia tau aku mencintainya seperti sayyidina Ali mencintai Siti Fatimah, maka mungkin hatinya akan bergetar hebat karena cintaku sejernih telaga air kautsar di surga sana. Cinta yang tak pernah ku kotori dengan nafsu. Cinta yang ku dambakan menjadi tabib dari kegersangan hati ku. Karena aku telah berjanji jika dia memiliki perasaan yang sama padaku, Maka akan ku muliakan dia seperti adam memuliakan hawa. Akan ku jaga dia sebagaimana sulaiman menjaga balqis. Dan akan ku cintai dia seperti baginda rasulullah mencintai siti khadijah.
“Astaghfirullahaladzim” aku berucap dalam hatiku, berharap apa yang aku takutkan tadi tak akan terjadi.
Berjam-jam telah berlalu. tapi sedikitpun aku tak mampu berkata apa-apa selain hanya sesekali menatap wajah nya yang cantik. Bagiku secantik layla yang menjadi penyebab gila nya Majnun.
“Akh kenapa bodoh sekali kau Angga..padahal ini lah saat nya menyatakan perasaanmu!” satu sisi hatiku berkata dengan lantang nya di batinku. Aku menjadi bingung antara perasaan mau dan tidak mau. Tapi tiba-tiba menyusul satu sisi lain yang menyuruh aku bersabar dulu . Ahh aku jadi bingung.
Aku putuskan untuk pulang seraya bangkit dari kursi disebelah mbak Sinta.
“Mau pulang dek ?” tanya Mbak sinta reflex melihat aku yang aneh.
“iiiiii….iii…iya mbak !” jawab ku terbata.
“Oh sama-sama mbak saja. Lagian rumah kita kan searah”. aku kaget mendengar pernyataan nya. Memang sudah sering kami jalan dan pulang bersama. Tapi kali ini berbeda karena tepat hari ini aku akan mengungkapkan perasaan ku pada nya. Aku yang tak tau harus menjawab apa hanya mengangguk dan setelah itu kami beranjak pergi dari perpustakaan.
Diperjalanan pulang aku masih bodoh dengan tak bisa berkata apa-apa. hanya sedikit senyum dan beberapa gurauan  kecil yang kami lakukan. Aku merasa aneh dengan moment kali ini karena mbak sinta seakan tau jika aku akan menyatakan cinta padanya. Makanya dia seeolah memancing aku untuk berani berbicara jujur di hadapan nya. Namun Aku tetap saja diam seribu bahasa.
Ketika kami sampai di depan rumah mbak sinta. Entah kenapa aku yang di tawarkan mampir mengiyakan saja ajakan nya. Padahal sebentar lagi adzan maghrib berkumandang.
Aku duduk di samping mbak sinta. Dengan perasaan yang mulai jemu atas kegelisahan ini, aku beranikan untuk memulai segalanya. Ku tundukkan kepalaku. dan ku raba saku dimana aku  meletakkan surat ku tadi. Tapi…..aku terkejut setengah mati ketika ku rasa surat yang aku buat tadi subuh tidak ada.
“Kemana ?” tanya batinku. Akhhh betapa bodoh nya aku surat  itu bisa tertinggal entah dimana. Padahal tadi aku merasa sudah memasukkan nya ke dalam saku ku. aku menjadi Idiot beberapa saat Karena tak menemukan jalan lain untuk menyatakan cinta ini. Namun tak lama aku merasakan ada anugerah keberanian yang merasuk tubuhku. Aku jadi kembali seperti sedia kala, dan pada saat itu ku beranikan menatap mata nya.
“ Mbak !” aku berucap yakin.
“Iya dek ada apa?”
“sebenarnya ada yang saya ingin utarakan. Tapi mohon kira nya saya di maaf kan jika pernyataan ini nantinya akan melukiskan warna beda di hati mu.”
“memang nya kamu mau bilang apa dek?”
“sebenarnya….” Aku terpejam sesaat untuk memastikan perasaanku.
“sebenarnya saya mencintai mbak !” kalimat itu keluar bagai semilir angin malam.
“Apa?”. mbak terperangah. Sepertinya dia kaget dengan apa yang aku ucapkan barusan.
“Maaf jika saya salah dan tidak pantas mengatakan ini pada mbak. Tapi inilah yang saya rasakan selama dua minggu ini. Awal nya saya tidak menyangka jika ini bisa terjadi. Namun saya sadari jika yang berhak atas saya dan perasaan saya adalah ALLAH. Jadi tidak ada alasan saya harus mengkufuri nikmat ini.” Jelasku dengan perasaan tak karuan. Ku tatap mbak sinta yang sedang menunduk. Mungkin dia bingung. Tapi beberapa detik selanjutnya ketika muadzin mulai melantunkan adzan maghrib di masjid dia berucap :
“Mbak tidak tau harus menjawab apa. Karena apa yang mbak dengar kali ini seperti mimpi. Orang yang mbak anggap seperti adik ternyata diam-diam mencintai mbak. Jadi mungkin mbak tidak bisa berkomentar apapun selain satu. Yakni. Mbak sebenar nya juga suka dan sayang padamu.”
Aku seakan mendapat hawa indah dari surga ketika kalimat itu keluar dari bibir mbak sinta. Tapi baru saja kebahagiaan itu muncul tiba-tiba ada yang belum terselesaikan dari ucapan mbak sinta,
“Iya dek ..mbak menyukai dan menyayangimu. Tapi maaf  itu semua hanya sebatas adik dan kakak walaupun nyatanya kamu memang lebih tua dari mbak. Maaf kan mbak jika kalimat terakhir ini membuat adek kecewa tapi inilah mbak. Seorang wanita yang telah lelah untuk menjalani hubungan dengan lelaki manapun. Jadi mbak putuskan untuk tidak berkomitmen dengan siapapun mulai dari sekarang dan entah sampai kapan. Maaf kan mbak sekali lagi.”
Adzan maghrib menjadi saksi akan cintaku yang tak bersambut. Aku tergagap menahan air mata yang jatuh. Ternyata perasaan ku bertepuk sebelah tangan. Walaupun Aku sebenarnya sudah menduga nya dari awal karena dia memang tak layak bagiku. Aku hanya pungguk dan dia bulan. Tidak kah suatu kemustahilan pungguk mampu terbang ke bulan. Namun begitu. Aku masih merasa heran kenapa ALLAH menganugerah kan perasaan sebesar ini. Kenapa perasaan sebesar ini hanya di ilhamkan kepadaku. Kenapa tidak kepadanya juga. Apakah ada aturan jika seorang pungguk tak boleh bermimpi merindukan bulan. Kenapa ???
Aku yang tetap terisak berpamitan karena tak mampu lagi menahan gunung kesedihan menumpahkan larfa nya di hatiku. Aku berlari sekuat tenaga. ku lewati jejeran rumah dengan tangis yang berderai. ku tapaki ketidak adilan bumi  dengan rasa sesal. Sungguh aku merasakan sedih yang tak pernah aku rasakan sebelum nya. Sedih di mana aku hanya bergantung pada harapan mustahil yang tuhan berikan. Akhirnya aku sampai di suatu masjid. Di sana aku berhenti. Ku lihat telah tak ada lagi orang melaksanakan sholat maghrib. Aku masuk setelah sebelumnya mengambil wudhu. Ku laksanakan dua shalat sunnah . dilanjutkan shalat maghrib. Dalam sholat lagi-lagi hatiku hujan akan kesedihan..aku tak menyangka semuanya sia-sia. Aku juga menyesalkan kenapa Allah hanya mengilhamkan perasaan ini padaku. Padahal perasaan ini besar sekali. Aku tambah terisak ketika aku membaca surat ar-Rum . kurasakan depresi cinta yang dalam merajam hatiku. Hingga aku kufur atas apa yang Allah berikan. Ketika sujud ku rasakan Allah mengembalikan kesadaranku. Dan segera menggantinya dengan kesabaran walau sejatinya cinta yang tertancap dalam di hatiku semakin hari akan semakin dalam. Namun dalam sujud itu aku pasrah kan semuanya pada allah.  Jika aku berani mencintainya karena ALLAH maka aku harus ikhlas melepasnya karena ALLAH pula.

“Ketika dunia ini tak mengijinkan aku memilikimu …ku harap ALLAH akan adil dengan semua ini. Karena aku ingin memilikimu walau di surga nanti”
****Terimakasih bangau berkumis.. hanya bersama mu kurasakan Allah begitu menyayangiku dengan mengilhamkan perasaan cinta yang besar ini. Walau kenyataan nya aku tak bisa menjadi pilihan hatimu.
13-03-2012
Ku tuliskan cerpen beserta surat terakhir ini untuk mu karena kemarin kau memintanya.
Setelah ini aku akan berhenti menulis sampai Allah menghilangkan perasaan ini padamu.
Terimakasih..Bangau berkumis. Yakin lah aku selalu mencintaimu dalam semua keadaan.
Bismillahirrahmanirrahim..

Sabtu, 13 Oktober 2012

Ku Damba Dirimu Di Surga

Ku Damba Dirimu Di Surga

Gerimis mengundang haru di bumi khatulistiwa. Mendung menyanyikan lagu kasih pada tanah gersang nya. Rinai nya sejuk, lembut dan terkadang lelapkan jiwa. hawa yang biasanya ganas kini berlutut di bawah kaki hujan. Bukan karena tak kuasa berkoar lagi tapi karena relung hati 
nya telah basah dengan gerimis cinta.yah gerimis cinta.
“Aku mencintaimu Tiara “ !! fadhil terpejam mengucapkan kalimat itu.
Tiara bangkit dari duduk nya, ia dekati fadhil, menatap mata sendu nya, mencoba mencari kebenaran kata-kata barusan.
“Apa Dhil? Aku tidak mendengar?” tiara berharap fadhil mau mengulanginya.
“Aku Mencintaimu Tiara” ! kalimat itu keluar lagi.
Fadhil masih terpejam. Di hadapannya tiara dengan senyum penuh arti menitikkan air mata tak percaya akan apa yang barusan fadhil katakan.
“Kamu serius Dhil”? tanya tiara belum percaya.
Fadhil membuka mata. Ia kaget melihat tiara menangis. diangkat tangan kanan nya berniat mengusap air mata tiara yang jatuh.
“Jangan dhil ! kita belum halal !” fadhil menurunkan tangan nya.
Tiara mengusap sendiri Kristal itu. Ia berbalik membelakangi fadhil. Tak ingin zina mata terjadi.
“Aku Juga mencintaimu Dhil !” tiara kembali menangis. Perasaan nya sangat bahagia.
Kepalanya menunduk. Di dekap kedua tangan nya di dada berharap syaitan tak akan mengganggu moment indah kali ini.
“Alhamdulillah ya Allah !” fadhil bertahmid. Di sujudkan kepalanya di tanah lembab yang baru terkena hujan. Ia sangat bersyukur karena ternyata perasaan nya bersambut. Kini ia bagaikan adam yang baru saja bertemu hawa di padang sahara. Indah , bahagia dan tentunya bersyukur.
***
“Bangun abang..bangun !!”. Nurmala, adik fadhil gusar melihat abang nya tak juga sadar.
Fadhil membuka mata perlahan. Pipinya basah. Di hadapan nya kini Nurmala sedang resah.
“Abang dimana Mala ?” bibir fadhil berucap.
“Abang di rumah . maaf jika mala mengganggu tidur abang tapi abang belum sholat isya”.
 fadhil menggaruk kepalanya, menyingkap selimut separuh.
 Ternyata dia hanya bermipi.
“Astaghfirullahal adzim !” fadhil meringis.
“Abang kenapa? Abang mimpi buruk?” mala bertanya.
“Tidak apa-apa mala. Abang hanya menyesal karena belum sholat” .
fadhil berbohong tak ingin mala tahu tentang mimpi nya.
“Sekarang jam berapa?” fadhil bertanya.
“sudah Jam tiga lewat lima belas bang.”
Fadhil turun dari ranjang, berjalan memasuki kamar mandi. membasuh muka dan berwudhu,
Dia melihat wajah nya di cermin sebelum keluar. Ingatan nya kembali pada mimpi tadi. Di usap muka nya berkali-kali berharap kelak ia benar-benar mampu menyatakan perasaan itu.
Di luar nurmala membaca alquran. Mungkin dia baru saja shalat thajjud.
Fadhil membuka lemari, mengambil kain sarung. Sajadah yang terhampar di kasur ia ambil, ia hampar dan sholat isya.
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (syurga) (QS An-nur : 26)”
Pipi fadhil basah. Sepotong surat cinta dari ALLAH ini membuat dia sadar bahwa dia belum pantas buat tiara. Gadis itu terlalu baik, soleha, alim, berakhlak mulia dan terlalu sempurna.
Dia rukuk, I’tidal kemudian sujud.
Dalam sujud nya ia memohon agar Allah menjaga Tiara. Meski sampai detik ini ia belum mampu mengungkap perasaan nya. Dia bisu, dia gugup, dia merasa tak pantas ketika berhadapan dengan gadis impiannya. Jangan kan berucap cinta, mengucap salam saja teramat susah.
Biarlah cinta ini Allah yang menyampaikan dengan sejuta cara-Nya. fikir fadhil.
 
***
Bak adam dan hawa. Ternyata Tiara kini merasakan hal yang sama. Bermimpi bertemu fadhil dan mengungkap kan benang cinta nya  yang kusut. Setelah shalat istikharah, dia buka diary nya, menulis kan sejuta doa agar Allah mengabulkan harapnya.
Untukmu Yang Selalu Kunanti...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...


Bila  letih yang kurasa kini, aku yakin kau juga merasakannya. Letih menunggumu. Letih menunggu janji Allah untuk secepatnya mempertemukan kita dalam kesempatan untuk menggenapkan separoh dari agama ini. Lelah… dan teramat lelah….!!!!
Itulah yang sekarang kurasakan. Lelah untuk tetap menjaga hati dan iman ini. Lelah untuk istiqomah menanti hingga janji Allah tiba. Lelah untuk tetap tersenyum dalam menghadapi setiap godaan.
Di tengah kelelahan itu, izinkan aku sekedar melukiskan kekeluan hati yang sulit terucap dengan lisan. Dan izinkan pula aku sedikit mengutip surat cinta dari Allah, sebagai penawar dari bisa cinta yang tak pernah terungkap dari bibirmu.

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara
kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba
sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. Jika mereka miskin ALLAH akan mengayakan
mereka dengan karunia nya. Dan Allah Maha Luas
(pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)”
Lelah…!!! Dan teramat lelah….!!!!

Untuk sebuah penantian yang aku sendiri tidak tahu kapan berakhirnya. Selaksa doa yang terus terlantun seakan menjadi arang untuk mengobarkan asa. Sebuah harapan untuk segera menemui hari yang paling membahagiakan. Ya… Hari pernikahan. Hari dimana kita bisa menunpahkan segala rasa cinta yang ada dengan halal dan penuh ridha Allah.

Selaksa doa dalam sujud harap tak pernah lekang di tiap sepertiga malam terakhirku. Mencoba mengadu pada tiap doa yang terlantun. Mencoba mengiba dalam tiap tangis yang terus membasahi sajadah. Dan Mencoba bertanya dalam heningnya istikharah.
walau hati ini mencoba mengeja setiap rencana Allah. Tapi satu keyakinan yang akan terus membuatku tersenyum di tengah hati yang semakin lelah. Janji Allah mungkin tidak datang dengan “SEGERA”. Tapi akan selalu datang dengan “PASTI”. Seperti apa yang telah Allah janjikan dalam surat An-Nur : 26. Sekarang, aku memang tidak tahu perasaan mu kepadaku. Tapi aku yakin, kau akan dipertemukan Allah denganku saat masing-masing kita telah baik di mata Allah.
Di tengah lelahnya hati ini, izinkan aku tetap menunggu mu dengan iman yang tak pernah surut. Meski kadang godaan rasa putus asa terus menghinggap di hati. Aku hanya perlu menyandarkan cinta dan harapan pada Allah. Karena, menyandarkan harapan pada manusia hanya akan menemui kekecewaan. Biarkan penantian yang aku sendiri belum tahu kapan berakhirnya ini menjadi ladang ibadah yang disediakan Allah untukku. Dan orang-orang yang sedang menanti sepertiku
Terus perbaiki diri akhi Fadhil….
Aku masih setia menantimu.


Mata tiara terkatup, mengkhiri selaksa doa nya dengan senyum.
***
          Fajar baru saja menyingsing di ubun-ubun, ketika dua mobil Honda jazz memasuki pelataran rumah Tiara. Dua orang paruh baya mengapit seorang pemuda ganteng yang sedang  berucap salam. Pintu terbuka. Untaian senyum tersulam menyambut tamu istimewa.
Pemuda itu bernama zulikifli. Seorang ustad muda lulusan mesir yang kini berrtandang ke rumah seorang bidadari jelita untuk menyampaikan titah mulia.
Zulkifli duduk sendiri penuh harap. Orang tuanya berlainan sofa di samping kanan, orangtua tiara di sampingkiri dan tiara sendiri tepat di hadapan nya.
Tanpa basa-basi di utarakan lah niat zulkifli, jika ia ingin mengkhitbah tiara. Ayah tiara yang mendengar nya  tersenyum bahagia. Kemudian tiara di persilahkan untuk menjawab pengkhitbaan itu..
“ustad zulkifli yang Allah muliakan. Maaf jika saya tidak bisa menjawab sekarang. Mungkin Biar Allah saja yang akan menjawabnya”  Tiara menjawab lirih..
“Maksud ukhti?” Ustad zulkifli menyela.
“saya akan istikharah dulu. jika Allah meridhai pasti semuanya akan berjalan sebagaimana ketentuan di laukhul makhfudz sana !”
Zulkifli memaklumi dengan mata sedikit kecewa.
“sampai kapan saya harus menunggu ukhti?” zulkifli mencari kepastian.
“Emhh,, insyaallah jika dalam seminggu saya tidak mengabari apapun pada ustad, maka itu berarti saya menerima lamaran ustad ”
“Baiklah jika memang begitu, saya akan menunggu !” .
Tiara tersenyum dalam keterpaksaan, hatinya menagis. Tak ia sangka jika keinginan nya merenda masa depan bersama fadhil sebentar lagi hanya tinggal mimpi. Sulaman kebahagiaan yang ingin ia jalani bersama fadhil  harus menjadi benang kusut kembali, di hempas titah mulia yang di tawarkan zulkifli.
Dia tak tau harus berbuat apa? Menolak ! rasanya tidak mungkin karena secara agama zulkifli telah sempurna. Hanya kepasrahan yang ia jadikan tangga untuk menggapai kebahagiaan kini
Tiara menangis sendiri di kamar setelah prosdsi itu usai. Matanya tak henti berkeringat menyampaikan ketidak sanggupan nya mengubur harapan yang ia bangun. Samar-samar ia ambil handphone nya, menelpon seseorang agar menemaninya dalam ketidak pastian itu.
Seorang gadis berjilbab merah muda masuk ke kamar tiara. Dia begitu anggun meski tanpa make up apapun. Di hampirinya tiara yang sedang mendekap kedua lutut nya.
“ Mbak tiara kenapa” Gadis itu penasaran.
Tiara tak menjawab. Mata nya kian berkaca-kaca. Sesekali airmata nya tumpah membasahi tepian jilbab biru nya. Gadis itu duduk di hadapan tiara.
“Mbak kenapa?” gadis itu mengulang.
“Mbak baru saja di khitbah ustad zulkifli mala !” tiara menatap Mala dengan mata basah.
Mala tersentak. Muka nya merah. Kebisuan juga menderanya saat kalimat barusan terlintas.
“ sekarang tolong mbak mala. Mbak sangat mencintai kakak mu, mbak sangattttt mencintainya “ tiara mengiba di hadapan mala. Matanya tak henti menangis
“kamu harus tahu mala, jika mbak hanya ingin dia yang menjadi imam buat mbak, mbak tidak mau yang lain. Jadi tolong sampaikan salam cinta ini pada nya. Jika dia juga memang merasakan nikmat cinta yang di berikan Allah ini maka mbak tunggu kepastian cintanya kurang dari seminggu, sebelum mbak benar-benar menerima ustad zulkifli.”
Tiara sesungkan. Belum pernah ia sesedih ini.
“Tapi apa Mbak yakin !” mala mencoba berkomentar.
“mbak sangat yakin mala”. Tiara berdiri. Mebuka laci dan mengambil Diary nya.
“sampaikan ini pada abang mu. Semoga dengan ini dia bisa faham akan Perasaan mbak”.
Ragu-ragu mala mengambil diary itu. dia tak berkomentar lagi, hanya deraian tangis yang mengalir menyaksikan cinta yang tak pernah terungkap antara abang nya dan tiara.
***
Galau tak bertepi kini menyerang seorang pemuda yang sedang mengerjakan skripsi nya di depan komputer. Jemarinya terus mengetik, mata nya fokus, namun sayang  alam fikir nya terbang kembali pada mimpi yang baru saja dia alami. Di teguk secangkir kopi di samping nya. Jemarinya melepas keyboard, di alihkan pada permukaan meja dan dimainkan nya bak tapak kaki kuda.
“Tiara ,, aku sangat mencintaimu.,,tapi mengapa begitu berat untuk mengungkap kan nya?” fadhil mendesah perih. Matanya kosong sekali.
“Abang harus bdrani mengungkapkan nya”. Mala menyahut dari balik pintu.
Fadhil menoleh kaget. mala masuk dan duduk di samping fadhil. Fadhil berbalik menatap ke arah adiknya..
“Apa maksud mu mala?” fadhil berpura-pura.
“sudahlah abang, jangan menutupi nya lagi. Mala tau abang sangat mencintai mbak tiara. Namun sampai detik ini abang tak berani mengunggkapkan nya” tukas mala.
Fadhil tertunduk mendengar penuturan mala. Tiara makin berkoar.
“Ini bang ada titipan dari mbak tiara!” mala menyodorkan sebuah diary berwarna merah muda.
“Apa ini mala”? fadhil tak paham.
“Ini diary mbak tiara. Dia menyuruh mala memberikan nya pada abang, menurutnya dengan diary ini abang akan faham akan isi hati nya”.
Fadhil mengambil diary itu.  sejenak ia pandang, Ada tulisan “FARA” di pojok atas sampulnya.
Dia terkesiap, dibuka lembaran pertama. Tertulis “Fara= Fadhil & Tiara”. Hatinya menangis  haru. di lembar ke dua dan seterusnya ada curahan hati tiara yang sangat mendambakan kejujuran fadhil. Sampai pada lembaran ke 49 air mata nya tak terbendung lagi ketika membaca doa agung yang kemarin malam tiara panjatkan. Sungguh mendayu-dayu, Indah namun juga menunjukkan kelelahan yang sangat kronis. Betapa selama setahun ini dia memendam perasaan nya pada fadhil. Betapa ia tak ingin mengungkapnya karena kodrat nya sebagai wanita. Dan yang lebih perih, Betapa lelah, letih, bercampur rindu di genggam nya ketika cinta itu semakin hari semakin menggunung. Subhanallah.
“cepatlah bertindak bang, sebelum semuanya telat!” mala menggugurkan keterpanaan abang nya.
Fadhil mendongak  tak mengerti. Di tutup diary itu lalu kembali pada perbincangan, Belum saja dia faham akan penuturan mala. Adiknya kembali menyambung.\
“Mbak tiara sangat berharap jika abang akan menagih cinta nya secepat mungkin, karena tadi pagi ada seorang lelaki bernama zulkifli datang mengkhitbah nya. Mbak tiara belum memberi jawaban yang pasti karena dia sangat berharap jika abang yang akan mencalonkan diri sebagai imam hidup mati nya. Jadi saran mala, cepatlah kejar cinta nya bang”.
Fadhil kaget. Matanya kembali nanar. Kebisuan mendera bibirnya. Bukan nya semangat yang ia peroleh mendengar penuturan mala tentang tiara, malah kelemahan dan ketidak pantasan yang ia rasakan. Dia menjadi rendah diri untuk mengejar cinta tiara apalagi bersanding dengan nya.
Disusul juga nama zulkifli. Seorang ustad sekaligus dosen yang baru masuk di kampusnya.
Lengkap sudah kegagalan dan ketidak pantasan itu ia rasakan. Masyaallah.
“abang menyerah mala. Abang ikhlas dia bersama ustad zulkifli”.
“Tapi bang !” mala menyela. Mata gadis ini tiba-tiba basah menyaksikan takdir akan mengubur perasaan abang nya.
“Ustad zulkifli itu orang yang lebih baik dari abang, lebih siap dari abang”  fadhil sesungukan.
“ Kalau bang fadhil berani tegas. Memilih lah . Jika abang cinta dan berani mengungkapkan pada mbak tiara masalah selesai bang.” Mala menguatkan fadhil.
“Sudahlah mala. Abang tak pantas buat nya”.
Keduanya tak berucap lagi. Fadhil menangis tertunduk. Begitu pula mala. Biarlah kisah tak sempurna ini di sempurnakan Allah Kelak…karena
“Sesungguh nya Rezeki, Jodoh dan Maut sudah di tentukan oleh Allah di Zaman Azali sana”..
Subhanallah
***
Matahari terbit menjalani takdirnya, bumi berputar bersama poros nya, bulan bintang juga tetap bersinar menemani langit kelam di  setiap malam nya, sedangkan hari demi hari terlewati bagai kapas putih yang di terpa angin semusim.
Tiara yang tak kunjung menyambut pesan indah dari fadhil akhirnya menerima lamaran dari ustad zulkifli. Meski pedih, tapi jika ini yang terbaik maka mau tidak mau dia  harus siap lahir dan batin. Biarlah harapan merenda hari tua bersama fadhil ia jadikan bingkai kemesraan yang mati di tengah jalan. Bukan kah cinta sejati tak selamanya harus memiliki tapi kadang juga harus mengikhlaskan cinta pergi.
Seluruh keluarga turut bahagia mendengar kabar indah tersebut. Apalagi tersiar kabar jua jika pernikahannya akan di laksanakan sebulan setelah nya. Bagi zulkifli, dunia seakan surga nyata. Tapi bagi tiara dunia sekarang tak ubah nya neraka yang siap merajam hatinya.
Hari – hari penuh gelisah di lalui gadis berlesung pipit ini. Mulai dari menentukan hari baik, fitting baju pengantin, menyiapkan tempat resepsi, sampai menyebar undangan kemana-mana. Tak ada sedikitpun rasa bahagia menyerap pori-pori kalbunya. Meski waktu beranjak semakin jauh meninggalkan kisah tak sempurna nya bersama fadhil.
Sedangkan fadhil. Lelaki soleh ini cuma bisa menelan ludah pahit saat mendapatkan undangan yang bertuliskan nama pujaan hatinya dan zulkifli. Dia semakin terpuruk sedih karena rupanya ia juga mendapat daulat untuk mengisi salah satu agenda acara di pernikahan tersebut.
Pedih  dan teramat pedih.
Allahuakbar
***
Teruntuk Calon Imamku,,
Duhai engkau yang ada disana ,jika benar itu engkau ,yang telah Allah pilihkan untuk mendampingiku,,Maka telah ku persiapkan hati ini menyambut cîñtâmû..
Ketika ku mendampingimu kelak harapan ku hanyalah agar aku mampu menjadi yang terbaik untukmu, Semoga diriku menjadi penenang bagimu, Wajahku menjadi kesenangan bagimu,Mataku menjadi keteduhan bagimu dan genggaman tanganku menjadi pelepas keresahanmu, Aku hanya ingin kau yang bertahta dihati ini ...
Aamiin ya Rabb.
Tiara menyenandungkan bait-bait doa terakhirnya, sebelum esok jam tujuh pagi dia akan benar-benar di imami oleh zulkifli. Matanya tak henti menangis. Sudah seminggu terakhir dia  berdiam seorang diri. Tak pernah tidur, makan atau pun sekedar bermake up. Baginya hidup kini hanya sebatas pelarian dari surga ke bumi. Yang awalnya indah, megah, nikmat, dan penth keceriaan menjadi buruk, gersang, pedih juga di selimuti kesedihan. Sungguh tak kalah dengan Layla ketika di pisahkan dari Majnun.
Usai berdoa dia rebahan di atas sajadah. Kedua tangan nya memeluk mushaf. Mata nya tak henti menangis. Mukenah nya masih ia kenakkan. Sesekali nama fadhil ia sebut lirih di iringi deraian air mata yang gugur dari kelopak matanya. Begitu besar perasaan cintanya pada pemuda itu.
terkenanglah suatu peristiwa yang mempertemukan dia dan fadhil.
hari itu dia menghadiri pesta pernikahan sahabat nya Farah. Dia duduk di kursi nomor tiga dari depan kuadi. Matanya terbinar bahagia menatap sahabat nya yang sudah bisa bersanding dengan imam pilihan hatinya. Saat semua undangan terpana melihat ke dua pengantin, tiba-tiba lampu mati. Gelap, Gulita. Seorang pemuda berpeci abu-abu berkoko putih datang dengan membawa lilin di tangan kiri dan microphone di tangan kanan nya. Ia berucap salam. Tapi salam nya berupa nada-nada indah yang hentakkan jiwa. Rupanya dia bernyanyi. Merdu sekali, indah sekali. bak alunan nyanyian telaga surga ketika semua mahluk menahan dahaga di hari kiamat.
Tiara bisu seketika menatap pemuda itu. hatinya bergetar hebat saat tanpa di sangka lampu hidup kembali dan mata mereka beradu. Tiara tersenyum manis. Pemuda itu juga. Dan hati mulai tertambat seiring nyanyian klasik penegur jiwa di senandungkan fadhil. Yah pemuda itu fadhil.
Sejak itulah mereka mengagumi, menyayangi dan mencintai masing-masing, meski hanya dalam diam, dalam kebisuan serta dalam ketidak mampuan menahan rindu yang berkepanjangan.
“Asshaduallailahaillallah waashaduanna muhammadarrasulullah..aku mencintaimu fadhil !”
Mata tiara terkatup. Bibirnya tersenyum manis. Dan wajah nya cerah bak mawar di taman surga.
***
“Pagi ku tak sesegar pagimu,karena pagi ku kelam.
Sore ku tak pula seteduh sore mu,karena soreku suram
Dan malam ku tak seindah malam mu,karena bintang hatiku terbenam.”
Pesta berakhir. Akad tiada. Mercon dan derum bunyi nyanyian pelengkap memory jiwa musnah.
Seluruh keluarga berduka. Air mata tumpah bagaikan tsunami menerpa aceh.
Cinta yang suci telah kembali pada hakikatnya. Cinta yang tak pernah di ungkap oleh seorang tiara meski godam harapan menancap dalam di ulu hati,.
Tiara gadis cantik ini terlelap untuk selama-lamanya. Memeluk mushaf alquran. Membawa cinta sucinya ke surga. Dia pergi tak tinggalkan kesan hanya senyum penuh bahagia dan wajah secerah syuhada yang sahid di medan perang yang menunjukkan keadaan nya.
Dia syahid. Ryahid dalam cinta. Laksana qais yang syahid karena layla.
Subhanallah … cinta yang tak terungkap di bawa nya kesurga. Biarlah dia mendamba Fadhil di surga sana. Jika Allah berkehendak, maka Allah akan mempertemukan kembali mereka di alam penuh maya, di alam penuh cinta  dan di alam penuh suka cita.
“Ku Damba Dirimu Disurga”
begitulah pesan terakhir berupa catatan kecil yang dia selipkan di lembaran mushaf kecilnya…….

Kamis, 11 Oktober 2012

Man Jadda Wajadda


“Man Jadda Wa Jadda”
Bisimillahirrahmanirrahim.
Ya Allah yang maha diatas maha Yang esa diatas esa.
Sekarang si kerdl ini kembali bersimpuh di hadapan Mu.
Menadahkan tangan untuk memohon sesuatu.
Menitikkan air mata untuk panjatkan sejuta doa .
Ya Allah..ya rahman.
Terimakasih atas semua nikmat yang telah engkau berikan.
Islam ini,  Iman ini, ilmu ini, cinta ini, jiwa ini, raga ini, nafas ini
Dan semua ini-ini yang tak dapat hamba sebutkan satu persatu.
Ya Allah ya rahim.
Awal kata semoga tetap tercurahkan seuntai nikmat keselamatan, kesehatan, kelancaran rizki, dan ketetapan islam dan iman kepada kedua orang tua yang nun jauh disana.
Semoga lindungan dan cahaya cinta-Mu selalu menyinari hidup mereka
agar pengorbanan yang mereka lakukan untuk hamba tidak terbayar dengan sia-sia.
Rabbigh firli waliwa lidayya warham huma kama rabbayani soghiro.
Ya Allah yang maha agung.
Seandainya Di laukhul makhfudz sana sudah engkau tuliskan
Dia akan menjadi teman untuk arungi samudera hidup.
rapatkan lah jiwa ku dan jiwa nya.
Gantungkanlah nikmat kebahagiaan di antara kami.
Agar cinta yang karena-Mu ini abadi.
Tetapi ya Allah.
Seandainya sudah engkau gariskan Dia bukan untukku,
Bawalah ia menjauh dari hidupku,
Lupakanlah ia dari ingatan ku.
Dan peliharalah hamba dari rasa kecewa yang butakan jalan ini.
Ya Allah yang maha adil.
Aku berlindung padamu atas baik buruk nya hidupku.
Seandainya pula, terlukis indah jika dia akan menjadi teman dalam kebaikan.
Maka Erat kan lah hatiku dan hatinya.
Persatukanlah kembali jarak yang pernah terputus
Dan tumbuh suburkan lah cinta yang berdasarkan cinta karena mu ini.
Ya Allah ….
Cukuplah engkau saja sebagai tempat berteduh  ku.
Berteduh dari kemaksiaatan, berteduh dari jebakan syaitan jahanam.
Jika di akhir penantian dan perjuangan ini hamba gagal menggugah hatinya.
Maka demi nama-Mu yang agung.
Hapuskan lah nama indah nya di hati hamba.
Agar cinta ini tak sia-sia dan kembali pada hakikat nya.
***
Lelah hati ini, lelah jiwa ini. Sungguh pekerjaan paling membosankan adalah menanti. Menanti sesuatu yang tak pernah pasti. Apalagi jika di akhir penantian harus menerima kenyataan bahwa yang kita nanti tak pernah peduli atau hanya sekedar memalingkan muka untuk bersimpati.
“Akh,,,mungkin ini sudah takdirku!” aku berucap resah sambil sesekali menenangkan hatiku.
Aku malam ini tak bisa tidur nyenyak lagi. Sudah dua minggu semenjak aku mengalami pengalaman terpahit itu. tiap kali aku tidur pasti tengah malam aku bangun. Dan ketika aku bangun wajah nya, senyumnya, tutur kata nya dan semua hal tentang nya terbayang lagi di fikiranku. Aku tak sanggup jika terus begini, karena ini hanya akan membuat ku semakin tersiksa.
Tapi apalah daya. Aku, hatiku dan hidupku adalah milik ALLAH. sekuat apapun aku ingin berpaling jika Allah tak mengijinkan nya pasti hanya akan sia-sia. Jadi ku ikhlaskan saja semua ini terjadi kepadaku.
***
Aroma keindahan langit baru saja tergurat bersama mentari. Hangat cahaya nya terpancar bagai tangan tuhan yang siap menjinjing ku ke dalam buta nya takdir. Sedangkan keinginan, harapan dan kemauan hanya bisa menjadi bingkai dari lukisan takdir yang merajam harap.
Aku termenung di dalam kelas sambil memainkan bolpoin ke kanan dan ke kiri. Mata ku kosong, fikiran ku kosong. Aku hari ini benar-benar tak bisa berkonsentrasi pada mata kuliah yang di ajarkan. entah kenapa tapi aku merasa hatiku semakin di landa kemarau panjang setelah memutuskan untuk memperjuangkan cinta ku pada sinta.
“I will be there.
If one day you feel like crying...
Call me.
I don't promise if I will make you laugh,
But I can cry with you
If one day you want to run away--
Don't be afraid to call me.
I don't promise to ask you to stop...
But I can run with you
If one day you don't want to listen
to anyone...
Call me. I promise to be there for you.
And I promise to be very quiet.
But if one day you call...
And there is no answer...
Come fast to see me.
Perhaps I need you sinta

Tanpa sadar aku mencorat-coret kertas di hadapan ku. entah apa yang aku tulis, aku tak tahu. Tapi aku baru menyadari jika aku merangkai seuntai puisi ketika sahabat ku Indi duduk disampingku dan membaca tulisan itu.
“Ya Ampun Angga bagus banget puisi nya !” suaranya menyadarkan lamunan ku.
“Apanya yang bagus ?” tanya ku tak faham.
“Ini Angga, puisi yang kamu buat” dia menyodorkan puisi itu ke hadapan ku.
Aku membaca nya. Perasaan heran ku mencuat. Aku heran kenapa aku bisa menulis puisi, padahal tadi aku dalam keadaan tak sadar, mungkin (Andilau) antara dilema dan galau.
Aku terus membaca nya. Hatiku menangis perlahan ketika di akhir kalimat ku tuliskan nama Sinta. Ya Allah kenapa dalam alam bawah sadar sekalipun aku masih terus memikirkan nya. Apa sebesar itu pengaruh nya, sampai aku tak berhenti memikirkan nya walau sedetik. Aku mendesah pelan mengingat wanita impian ku itu, hatiku kembali menangis mengingat dia kini telah bersama orang lain, walau menurut nya hanya sebatas pembalasan budi belaka.
“Kamu memang lebih pantas bersama nya Sinta, karena dia lebih banyak berkorban di bandingkan aku !” kalimat itu keluar tanpa ku sadari. Indi yang faham akan perasaanku mengelus bahuku seraya berucap.
“ Sudah lah Angga ! kamu harus sabar. Mungkin belum waktu nya saja kamu memiliki nya. Sejarang mungkin kamu lebih baik melupakan nya untuk sementara agar..”
“ Apa ! melupakan nya ! indi kamu tau aku sangat mencitainya sampai-sampai dia menjadi isnpirasi dari apa yang aku lakukan dan aku tuliskan. Jadi bagaimana bisa aku melupakan nya jika setiap aku menulis cintaku semakin besar pada nya. Dia itu ispirasiku indi, dia itu Tulisanku”. Indi terdiam mendengar aku memotong kata-katanya yang belum usai.
“Maksudku bukan gitu Angga, aku Cuma gak ingin kamu terus-terusan begini, aku kasihan sama kamu, aku ngerasa kamu hanya di permainkan Sinta. kamu harus tau angga jika dia memang memiliki perasaan yang sama pada mu dia pasti tidak akan bersama lelaki itu” ! aku balik terdiam mendengar ucapan indi. Aku menunduk tak berani menatap nya. Dalam hati kecil aku bersyukur karena masih di anugerahkan sahabat seperti dia. dia sungguh baik pada ku apalagi dia tak pernah membiarkan aku sendiri ketika topan kesedihan meluluh lantakkan hatiku.
Kami terdiam untuk beberapa saat. Namun kemudian indi berlalu pergi setelah sebelumnya membesarkan hatiku kembali.
          Aku masih terdiam dikelas. Kepalaku tertunduk sambil menggenggam puisi yang tadi aku buat. Dalam diam kurasakan Rihana (wanita becadar putih yang ku temui di bus kencana) kembali ke alam fikir ku yang sedang galau. Rihana tersenyum sambil menaikkan alis kirinya.
“Angga kamu kenapa? Semuanya belum usai. Kamu masih bisa menggenggam cintamu jika kamu mau. Ingat Angga berusaha dan berdoa. Jika hari ini kamu gagal, berusaha lah lagi, berdoa lah lagi. siapa tahu esok kamu berhasil. Ingat Angga ­_Allah Tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang mengubah nya_ jadi Bangkitlah lagi Angga ! bukan kah kamu seseorang lelaki sejati. Banyak cara untuk membuktikan cintamu pada nya. Jika lelaki yang kini bersama nya berkorban dengan memberi dan memenuhi apa yang dia mau, maka kamu harus juga begitu, malah bila perlu lebih dari itu. berjuanglah dengan doa serta tulisan mu. Man Jadda Wa jadda Angga !! Man Jadda Wa jadda Angga!” Rihana perlahan menghilang dari alam bawah sadar ku berganti suara Adzan dzuhur yang membangunkan aku dari mimpi bertemu rihana  yang sesaat.
Aku beristighfar lirih disusul langkah kaki ku keluar kelas menuju masjid di samping kampus. Setiba di masjid, aku langsung melaksanakan shalat tahyatul masjid dilanjutkan shalat Dzuhur yang di Imami Salah satu Dosen mata kuliah ku, Pak Ahmad Ramadhan. Beliau adalah lulusan  universitas nasional Australia (The Australian National University; disingkat ANU) dan juga pernah mondok di al-Anwar Jombang.  Seusai shalat aku menemui pak Ramadhan. Kami berbincang-bincang di teras masjid.
Aku memulai percajapan dengan sedikit bertanya tentang pesantren Al-anwar. Bagaimana keadaan disana? Seperti apa strukturnya sampai hal-hal terkecil tentang pesantren yang merupakan pesantren Almarhum Gusdur atau kiai Abdurrahman wahid itu. Pak Ramadhan menjawab dengan penuh semangat sampai pada sebuah kisah di mana kisah itu membuat aku menitikkan air mata.
“Angga, saya bersyukur sekali karena Allah selalu di samping saya. Meski banyak orang menyangka saya telah kufur atas nikmat yang telah Allah berikan. Kamu harus tahu. dulu waktu saya mondok di al-Anwar saya merupakan satu-satunya santri termiskin yang pernah ada. Saya berangkat mondok atas biaya dari paman saya yang bekerja di Malaysia sebagai Tki. Awal nya semuanya berjalan normal layaknya santri yang lain tapi semenjak paman saya di pulangkan ke Indonesia karena surat-surat perijinan nya tidak lengkap, saya baru merasakan nya getir hidup yang menyiksa. Dimana kadang sehari saya hanya makan sisa-sisa makanan dari santri lain. Semua itu tak membuat saya putus asa. Tiap hari tiap malam saya selalu berdoa agar kelak Allah mengubah jalan hidup saya. Saya juga tak pernah berhenti belajar. Setiap detik yang saya pegang hanyalah buku dan kitab. Tak sedetik pun waktu saya lewati untuk bersantai. Dan itu membuah kan hasil, Karena walau saya merupakan santri termiskin di al-anwar saya juga termasuk santri yang di sayang kiai waktu itu karena saya sering meraih bintang kelas.
Namun saya akhirnya memutuskan menjadi abdi dalem kiai (pembantu) setelah keadaan financial saya memburuk karena Ayah saya meninggal dan paman saya sakit keras. Saya sungguh terpukul waktu itu sampai beberapa saat lama nya saya fakum dari dunia pesantren dan hanya berkecimpung dalam membantu urusan kiai. Dalam keadaan yang buruk itu Allah mempertemukan saya dengan Hani Sabila Fahrani, dia adalah puteri bungsu kiai. Waktu itu kami di pertemukan saat saya tidak sengaja menemukan kitab Al-hikam nya yang hilang. Dan sejak itu lah kami mengagumi satu sama lain dalam diam. Kami tak pernah mengotori hubungan kami dengan yang nama nya bersentuhan atau apalah . Hanya cahaya mata dan senyuman yang menjadi tanda akan cinta kami yang mulai mengakar di dada. Subhanallah.. Dia adalah wanita terbaik yang pernah saya kenal. Selain alim, dia  juga cantik. Apalagi akhlakul karimah serta jilbab yang selalu menemani langkah nya membuat semua lelaki di bumi ini rela di madu jika dalam islam di perbolehkan. Sedangkan saya, Saya hanya lelaki miskin yang hanya mempunyai keinginan kuat untuk merubah jalan hidup. Tidak pantas bukan?
Namun dalam kegalauan itu hani selalu membesarkan hati saya. Dia berkata jika semua mahluk di mata Allah sama, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan keimanan saja. Jadi saya tidak boleh merasa malu menjalani jalan setapak di kehidupan bersama nya. Kami pun tetap bersama sampai pada suatu ketika dimana ada seorang putera kiai dari jawa tengah datang melamar hani.
Hani yang hatinya telah terikat kuat dengan saya akhirnya menolak dengan alasan dia masih ingin menuntut ilmu dan belum berfikiran untuk berumah tangga. Namun fatal nya dalam alasan itu kiai menemukan sebuah fakta bahwa saya dan hani saling mencintai, makanya hani menolak lamaran itu. kiai pun murka dan saya hampir di usir dari pondok pesantren. untungnya hani membela saya. Dia berkata pada kiai jika kiai memang bijaksana maka kiai harus memberi kesempatan pada saya. Kiai yang memang bijaksana pun akhirnya memberi kesempatan atas permintaan hani. Kiai berkata jika saya memang benar-benar serius ingin mengkhitbah hani maka persyaratan utama nya adalah saya harus lebih alim dari hani dan kiai, tidak hanya dalam keagamaan tapi juga dalam ilmu-ilmu umum lainnya. Saya menyetujui persyaratan itu atas dasar itu adalah kewajiban bagi calon Imam buat hani dan rasa cinta yang sangat besar pada nya.
hari demi hari saya lewati untuk belajar, berdoa dan berjuang. Tak pernah sekejap saya putus asa meski sandungan demi sandungan menghalangi jalan saya. Hingga pada suatu jumat yang indah saya mendapat sepucuk surat yang merupakan Beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Australia. Saya lansung mengabar kan surat itu pada keluarga dan hani. Mereka sangat bahagia walau sedikit kesedihan merasuk hati saya karena harus meninggalk`n tanah kelahiran apalagi hani.
Sebulan setelah nya saya berangkat dan tibalah saya menjalani hari-hari tanpa hani. Dalam masa empat tahun itu saya bersungguh-sungguh kuliah walau rintangan demi rintangan saya hadapi.  Demi hani semuanya akan saya lakukan. Pikir saya. Namun rupanya Allah berkehendak lain. Ketika saya semester enam tersiar kabar entah dari mana jika saya tersandung narkoba dan menurut kabar itu saya menjadi pengedar nya. Hani dan kiai yang mendengar kabar itu sangat kecewa dan terpukul, sampai akhirnya hani di jodohkan kembali dengan putera kiai yang sudah menyatakan lamaran nya dulu. mereka menikah walau tidak di karuniai seorang buah hati.
Saya yang tidak tau apa-apa pulang ke Indonesia dengan sangat bahagia karena menjadi lulusan terbaik di Australian National University . Niat dan cita-cita ingin mempersunting hani musnah seketika saat saya mendengar dia  telah bersama orang lain. Saya tidak mampu menahan pedih itu dan tanpa disangka saya murtad dan keluar dari islam. Dalam tempo panjang yang butakan jalan saya itu Allah rupanya semakin menumbuhkan cinta dalam hati hani, karena akhirnya hani tau jika saya tidak bersalah dan tidak pernah berurusan dengan narkoba. Dia berdoa agar semua kebenaran terungkap dan saya diberi ketabahan untuk kembali lagi pada jalan yang benar, Islam. Doa hani berbuah. Tiga bulan kemudian  saya kembali sadar dan masuk islam lagi. Begitu juga doa saya. Hani berpisah dari suaminya karena rupanya dia lah yang menyebar luaskan kabar buruk itu. saya dan hani akhirnya  menikah karena persyaratan yang telah saya penuhi dan juga dia memang di ciptakan dari tulang rusukku. Alhamdulillah”….
Pak Ramadhan menitikkan air mata mengakhiri cerita itu. aku juga. Dia berpesan agar aku jangan pernah menyerah. Lagi-lagi “Manjadda Wajadda” sebagai pedoman nya walau konteks masalah nya dalam masalah asmara. Aku menjadi semangat kembali untuk meraih apa yang aku dambakan, ku tepiskan semua ragu dan bimbang agar jalan terang menghampiriku.
Aku lantas berpamitan setelah berucap beribu terimakasih pada beliau.
          Ku keluarkan puisi yang tadi ku buat tanpa sadar. Ku genggam dan ku renungi. Ini adalah bukti kecil akan cintaku yang besar. Aku mungkin masih tak bisa menghadiahkan harta berlimpah pada sinta. tapi setidak nya ini merupakan harta juga karena aku membuat nya dalam ketidak sadaran ku memikirkan nya. aku tersenyum dan berniat menitipkan nya pada indi agar di berikan pada sinta. namun baru saja langkah ku keluar dari pelataran parkir masjid, mataku menatap dua sosok anak manusia sedang berboncengan mesra di halaman kampus, Darma dan sinta.  aku mengurungkan niatku seraya bersembunyi agar aku tidak kelihatan mereka. Dalam persembunyian itu hatiku gerimis lagi karena belum mampu menyentuh hati sinta.
Aku tiba-tiba merasakan pusing di bagian kanan kepala ku, pandangan ku menjadi sedikit gelap dan akhirnya aku jatuh tak sadarkan diri di pelataran parkir sambil menggenggam puisi itu.
“Aku sangat mencintaimu Sinta”.. itu kalimat terakhir yang terucap dari bibir ku.
***Ini perjuangan ku hari ini !!!
To be continued in My other struggletions!!