Bismillahirahmanirrahim
Wahai kekasih yang telah sejuta tahun aku dambakan.
Kali ini biarkan aku berbisik manja dalam tahajjudku
Mengharap agar kelak kau halal bagiku
Dan menyelamatkan hatimu dari sulaman benang syaitan yang butakan
jalanmu
Demi Allah aku mencintaimu karena tak mau kufur atas nikmatnya
Nikmat yang tidak bisa kita atur jalan nya.
Hingga hati ini seakan menjadi bingkai atas sejuta cinta yang karena ALLAH
Langit
bermuram durja. Meski bintang tetap bergantung di langit. Malam seakan mencekam
walau sejuk malam menciptakan aroma keindahan. Ku tanya langit kenapa ? ia tak
menjawab. Kutanya malam kenapa ? ia tak menjawab pula. Sebenar nya kenapa
dengan mereka? Apa mereka ikut hanyut dalam kegalauan yang kini aku rasakan.
Atau mereka hanya berduka karena sebentar lagi mentari akan terbit.
Ketika
keraguan menyihir langkahku. Ku paksa harap ini bangkit dari kiamat sugro yang
tenggelamkan iman. Aku berdiri tanpa harap. Ku pandangi sebuah foto yang ku
pajang besar di lemariku. Ku lihat senyum nya begitu manis, semanis madu. Ku
tatap wajah baby face nya yang tak ayal buat ku bodoh lagi.
Yah aku memang bodoh.
Bodoh karena tak mampu ungkap perasaanku. Bodoh karena lagi-lagi aku tak mampu
mengcover hatiku dari kaum hawa. Padahal sejak pertama kali aku menginjak kan
kaki di kota ini untuk kuliah, aku telah bersumpah untuk menutup perasaan ku
dalam-dalam dari wanita.
Tapi, Semenjak pertemuan
pertama di acara Ospek dengan seorang wanita berjilbab putih yang mampu getar
kan hatiku. Sedikit pun mataku tak mampu untuk ku pejamkan. Karena semakin ku
pejamkan cahaya matanya yang syahdu akan semakin meluluh lantakkan semua
pondasi komitmenku.
Aku
melangkah keluar kamar. Menysiri tangga dan Naik ke atas atap rumah. Aku duduk
bagai pungguk bodoh yang merindukan bulan. Mataku tak lepas memandangi bulan
sabit malam ini. Mungkin aku ingin mengubah sebuah kutukan di hidupku, yang
menyatakan bahwa aku hanyalah seokor pungguk dan seluruh wanita di dunia ini
adalah bulan.
bukan tanpa alasan semua
ini terkutuk di takdirku. Semua berdasar pada apa yang aku miliki. Karena aku
hanya lelaki biasa yang tak memiliki apapun.
Jangan kan harta melimpah
untuk makan saja kadang aku harus menjadi pengamen di jalanan. Sungguh miris !
Dan semua itu menjadi sempurna dengan keadaan fisik yang pas-pasan serta otak
yang ku fikir nol.
Tapi kenapa sekarang aku
malah jatuh hati pada seorang wanita ? kenapa ?
Apa aku tidak pernah
berkaca siapa aku ? apa aku tak pernah mengukur kulitas ku?
aku hanyalah lumpur kotor
yang meski di daur ulang tak akan menjadi sesuatu yang berharga. Kenapa begitu
gila nya aku? padahal aku tak memiliki apapun yang dapat di banggakan selain
cinta dan sayang yang menjulang tinggi. akhh sungguh hal yang sangat bodoh.!!
Aku
tergagap ketika sayup-sayup adzan subuh membuyar kan lamunan ku. Aku
beristghfar lirih karena telah berfikiran seperti orang tak berpendidikan. padahal
aku telah semester dua. Apa masih Pantas kah aku berfikir seperti itu??jika
masih, berarti aku sama saja tidak bersyukur atas apa yang Allah berikan pada
Ku. dan Atas apa yang Allah tuliskan dulu di zaman azali.
aKu putuskan untuk sholat subuh dulu. Baru
setelah itu langkah demi langkah akan ku tempuh untuk pecah kan kegundahan ini.
Usai sholat ku ambil
secarik kertas dan kutulis kan semuanya disini.
Bismillahirrohmanirrohim
Teruntuk engkau yang aku cintai.
Ketika kau masih tak mampu menghalalkanku..
Ijinkan aku berbicara tentang cinta padamu.
Wahai yang aku cintai.
Sesungguhnya kata kata cintamu tak menjadi mata
air yang jernih di padang sahara hatiku, tetapi justru menjadi percikan api
yang setiap saat mampu membakar diriku.
Membakar rindu yang seharusnya untuk Rabb-ku.
Membakar cemburu yang seharusnya untuk Rabb-ku.
Membakar semangat yang seharusnya hanya karena
Rabb-ku..
Wahai yang kucintai.
Ungkapan perasaanku tak membuat bunga-bunga di
taman hatiku merekah. Tetapi justru membuat bunga itu layu sebelum mekar.
Duri-duri bunga itu seketika tumpul. Lemah dan tak mampu lagi melindungi sari
bungaku..
Wahai yang aku cintai.
Sungguh kata- kata cintamu setajam pedang umar bin khatab yang siap menebas apapun.
Tidak-kah kau ingin mengalihkan pedangmu itu untuk menebas ku. Tidak-kah kau
ingin mengalihkan pedangmu itu untuk menebas nafsu dan gejolak hati yang kini
meresahkan jiwaku ? hingga membuatmu menganiaya diri ku sedemikian rupa.
Wahai yang aku cintai.
Aku bukan malaikat yang tak memiliki hawa nafsu.
Aku hanyalah manusia biasa yang juga menginginkan cinta. Kehadiranmu kuakui
memang mampu memberi sebuah warna. Tapi entah mengapa itu jugalah yang
membuatku tersiksa. Bukan aku tak mampu menghargai apa yang kau rasa. Tapi
bukankah dengan begitu aku akan gagal mempertahankan hatiku yang selalu ingin
terjaga.
Wahai yang ku cintai.
Tidak-kah kau ingin cinta itu sesuci cintanya Ali
dan Fatimah ?
Dalam diam mereka mencinta.
Dalam rindu mereka berdo’a.
Jika karna cinta kau mampu menjadi seorang
pujangga. Tidakkah kau ingin mempersembahkannya kepada cintamu yang
sesungguhnya .. Allahu Rabbi. tak
tahukah kau bahwa cemburu-Nya teramat luar biasa.
Wahai yang aku cintaI.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang
Ya Allah, seandainya telah Engkau catatkan dia
milikku dan tercipta buatku, satukanlah hatinya dengan hatiku, titipkanlah
kebahagiaan antara kami, agar kemesraan itu abadi.
Tetapi Ya Allah, seandainya telah Engkau
takdirkan Dia bukan milikku, bawalah dia jauh daripada pandanganku, luputkanlah
dia dari ingatanku dan peliharalah aku dari kekecewaan.
Ya Allah Ya Tuhanku yang Maha Mengerti
Berikanlah aku kekuatan.
Menolak bayangannya jauh ke dada langit, Hilang
bersama senja yang merah. Agar aku senantiasa tenang, Walaupun tanpa bersama
dengannya. Pasrahkanlah aku dengan takdir-Mu.
Ya Allah aku mencintai nya Karena MU dan aku
ikhlas merelakan nya karena Mu pula.
Alhamdulillah. Mungkin ini jawaban atas doaku selama ini.
Aku yang tak mampu bicara apapun di hadapan nya akan mencoba membuka tirai
hatiku melalui surat ini. Semoga dia faham akan hatiku yang selama ini menyukai,menyayangi,mengagumi
dan mencintai nya. Alhamdulillah ya
Allah .
Hari ini hari minggu jadi tak ada jadwal kuliah. Sebenarnya
aku ingin memberikan surat ini padanya pagi ini, tapi karena takut terlalu
mendadak maka ku urungkan niatku. Biarlah nanti sore aku kerumah nya agar semua
rasa gelisah yang mendera jiwaku punah dengan jawaban dari nya.
Matahari beranjak seakan lama sekali. Detik demi detik ku
tunggu. Menit demi menit ku n anti namun sore yang ku damba belum juga tiba.
Aku yang iseng memutusan untuk pergi ke Perpustakaan umum untuk membaca buku.
Baru satu rak buku yang ku cari, tiba-tiba pandangan ku tertuju pada seorang
gadis mungil, dengan jilbab kuning membalut mahkota nya.
“Mbak Sinta”!! tegur ku
pelan.
“ Eh De’ Angga !!”
jawabnya.
“Udah lama mbak?” tanya
ku.
“ baru saja dek,,eh koq
gak ngajak-ngajak sie kalau mau kesini”? tanya nya balik.
“Emhhhh,,,ammmhhh,,,” aku
tak tau harus menjawab apa. Karena setiap aku menatap mata dan senyumnya. Aku
menjadi bodoh dan diam seribu bahasa. Entah kenapa tapi aku syukuri semua ini
karena rasa ini dari Allah. Bukan kah orang yang mengkufuri nikmat NYA akan
mendapat adzab.
“Koq diam kamu dek”? suara
mbak Sinta buyarkan lamunan ku.
“ehh..ahhh enggak apa-apa
koq mbak, saya Cuma ingat sesuatu” jawab ku berdalih.
“ Sesuatu apa dek?”
“Ahh gak penting koq mbak..
yang penting sekarang apa boleh saya duduk disini?” aku menunujuk kursi di
samping nya seraya tersenyum.
“oh iya boleh-boleh”.
jawab mbak sinta senang.
Langit belum juga mendung
tapi hatiku telah gerimis akan perasaan cinta. Duduk di samping mbak sinta
sungguh benar-benar membuat ku gelisah. Antara perasaan takut bercampur
bahagia. Akhh andai dia tau bahwa aku sangat mengidolakan sekaligus
mencintainya. Pasti semua akan berbeda.
Tiba-tiba ada perasaan
aneh yang menyusup ke kalbuku. Yakni perasaan takut jikalau dia tau hatiku.
Perasaan takut jika dia juga menolak perasaan ku. Padahal andai dia tau aku
mencintainya seperti sayyidina Ali mencintai Siti Fatimah, maka mungkin hatinya
akan bergetar hebat karena cintaku sejernih telaga air kautsar di surga sana.
Cinta yang tak pernah ku kotori dengan nafsu. Cinta yang ku dambakan menjadi
tabib dari kegersangan hati ku. Karena aku telah berjanji jika dia memiliki
perasaan yang sama padaku, Maka akan ku muliakan dia seperti adam memuliakan
hawa. Akan ku jaga dia sebagaimana sulaiman menjaga balqis. Dan akan ku cintai
dia seperti baginda rasulullah mencintai siti khadijah.
“Astaghfirullahaladzim”
aku berucap dalam hatiku, berharap apa yang aku takutkan tadi tak akan terjadi.
Berjam-jam
telah berlalu. tapi sedikitpun aku tak mampu berkata apa-apa selain hanya
sesekali menatap wajah nya yang cantik. Bagiku secantik layla yang menjadi
penyebab gila nya Majnun.
“Akh kenapa bodoh sekali
kau Angga..padahal ini lah saat nya menyatakan perasaanmu!” satu sisi hatiku
berkata dengan lantang nya di batinku. Aku menjadi bingung antara perasaan mau
dan tidak mau. Tapi tiba-tiba menyusul satu sisi lain yang menyuruh aku
bersabar dulu . Ahh aku jadi bingung.
Aku
putuskan untuk pulang seraya bangkit dari kursi disebelah mbak Sinta.
“Mau pulang dek ?” tanya
Mbak sinta reflex melihat aku yang aneh.
“iiiiii….iii…iya mbak !”
jawab ku terbata.
“Oh sama-sama mbak saja.
Lagian rumah kita kan searah”. aku kaget mendengar pernyataan nya. Memang sudah
sering kami jalan dan pulang bersama. Tapi kali ini berbeda karena tepat hari
ini aku akan mengungkapkan perasaan ku pada nya. Aku yang tak tau harus menjawab
apa hanya mengangguk dan setelah itu kami beranjak pergi dari perpustakaan.
Diperjalanan
pulang aku masih bodoh dengan tak bisa berkata apa-apa. hanya sedikit senyum
dan beberapa gurauan kecil yang kami
lakukan. Aku merasa aneh dengan moment kali ini karena mbak sinta seakan tau
jika aku akan menyatakan cinta padanya. Makanya dia seeolah memancing aku untuk
berani berbicara jujur di hadapan nya. Namun Aku tetap saja diam seribu bahasa.
Ketika kami sampai di
depan rumah mbak sinta. Entah kenapa aku yang di tawarkan mampir mengiyakan
saja ajakan nya. Padahal sebentar lagi adzan maghrib berkumandang.
Aku duduk di samping mbak
sinta. Dengan perasaan yang mulai jemu atas kegelisahan ini, aku beranikan
untuk memulai segalanya. Ku tundukkan kepalaku. dan ku raba saku dimana
aku meletakkan surat ku tadi. Tapi…..aku
terkejut setengah mati ketika ku rasa surat yang aku buat tadi subuh tidak ada.
“Kemana ?” tanya batinku.
Akhhh betapa bodoh nya aku surat itu
bisa tertinggal entah dimana. Padahal tadi aku merasa sudah memasukkan nya ke
dalam saku ku. aku menjadi Idiot beberapa saat Karena tak menemukan jalan lain
untuk menyatakan cinta ini. Namun tak lama aku merasakan ada anugerah
keberanian yang merasuk tubuhku. Aku jadi kembali seperti sedia kala, dan pada
saat itu ku beranikan menatap mata nya.
“ Mbak !” aku berucap
yakin.
“Iya dek ada apa?”
“sebenarnya ada yang saya
ingin utarakan. Tapi mohon kira nya saya di maaf kan jika pernyataan ini
nantinya akan melukiskan warna beda di hati mu.”
“memang nya kamu mau
bilang apa dek?”
“sebenarnya….” Aku
terpejam sesaat untuk memastikan perasaanku.
“sebenarnya saya mencintai
mbak !” kalimat itu keluar bagai semilir angin malam.
“Apa?”. mbak terperangah.
Sepertinya dia kaget dengan apa yang aku ucapkan barusan.
“Maaf jika saya salah dan
tidak pantas mengatakan ini pada mbak. Tapi inilah yang saya rasakan selama dua
minggu ini. Awal nya saya tidak menyangka jika ini bisa terjadi. Namun saya
sadari jika yang berhak atas saya dan perasaan saya adalah ALLAH. Jadi tidak
ada alasan saya harus mengkufuri nikmat ini.” Jelasku dengan perasaan tak
karuan. Ku tatap mbak sinta yang sedang menunduk. Mungkin dia bingung. Tapi
beberapa detik selanjutnya ketika muadzin mulai melantunkan adzan maghrib di
masjid dia berucap :
“Mbak tidak tau harus
menjawab apa. Karena apa yang mbak dengar kali ini seperti mimpi. Orang yang
mbak anggap seperti adik ternyata diam-diam mencintai mbak. Jadi mungkin mbak
tidak bisa berkomentar apapun selain satu. Yakni. Mbak sebenar nya juga suka
dan sayang padamu.”
Aku seakan mendapat hawa
indah dari surga ketika kalimat itu keluar dari bibir mbak sinta. Tapi baru saja
kebahagiaan itu muncul tiba-tiba ada yang belum terselesaikan dari ucapan mbak
sinta,
“Iya dek ..mbak menyukai
dan menyayangimu. Tapi maaf itu semua
hanya sebatas adik dan kakak walaupun nyatanya kamu memang lebih tua dari mbak.
Maaf kan mbak jika kalimat terakhir ini membuat adek kecewa tapi inilah mbak.
Seorang wanita yang telah lelah untuk menjalani hubungan dengan lelaki manapun.
Jadi mbak putuskan untuk tidak berkomitmen dengan siapapun mulai dari sekarang
dan entah sampai kapan. Maaf kan mbak sekali lagi.”
Adzan maghrib menjadi
saksi akan cintaku yang tak bersambut. Aku tergagap menahan air mata yang
jatuh. Ternyata perasaan ku bertepuk sebelah tangan. Walaupun Aku sebenarnya
sudah menduga nya dari awal karena dia memang tak layak bagiku. Aku hanya
pungguk dan dia bulan. Tidak kah suatu kemustahilan pungguk mampu terbang ke
bulan. Namun begitu. Aku masih merasa heran kenapa ALLAH menganugerah kan
perasaan sebesar ini. Kenapa perasaan sebesar ini hanya di ilhamkan kepadaku.
Kenapa tidak kepadanya juga. Apakah ada aturan jika seorang pungguk tak boleh
bermimpi merindukan bulan. Kenapa ???
Aku
yang tetap terisak berpamitan karena tak mampu lagi menahan gunung kesedihan
menumpahkan larfa nya di hatiku. Aku berlari sekuat tenaga. ku lewati jejeran
rumah dengan tangis yang berderai. ku tapaki ketidak adilan bumi dengan rasa sesal. Sungguh aku merasakan
sedih yang tak pernah aku rasakan sebelum nya. Sedih di mana aku hanya
bergantung pada harapan mustahil yang tuhan berikan. Akhirnya aku sampai di
suatu masjid. Di sana aku berhenti. Ku lihat telah tak ada lagi orang
melaksanakan sholat maghrib. Aku masuk setelah sebelumnya mengambil wudhu. Ku
laksanakan dua shalat sunnah . dilanjutkan shalat maghrib. Dalam sholat
lagi-lagi hatiku hujan akan kesedihan..aku tak menyangka semuanya sia-sia. Aku
juga menyesalkan kenapa Allah hanya mengilhamkan perasaan ini padaku. Padahal
perasaan ini besar sekali. Aku tambah terisak ketika aku membaca surat ar-Rum .
kurasakan depresi cinta yang dalam merajam hatiku. Hingga aku kufur atas apa
yang Allah berikan. Ketika sujud ku rasakan Allah mengembalikan kesadaranku.
Dan segera menggantinya dengan kesabaran walau sejatinya cinta yang tertancap
dalam di hatiku semakin hari akan semakin dalam. Namun dalam sujud itu aku
pasrah kan semuanya pada allah. Jika aku
berani mencintainya karena ALLAH maka aku harus ikhlas melepasnya karena ALLAH
pula.
“Ketika dunia ini tak mengijinkan aku memilikimu …ku harap ALLAH
akan adil dengan semua ini. Karena aku ingin memilikimu walau di surga nanti”
****Terimakasih bangau
berkumis.. hanya bersama mu kurasakan Allah begitu menyayangiku dengan
mengilhamkan perasaan cinta yang besar ini. Walau kenyataan nya aku tak bisa
menjadi pilihan hatimu.
13-03-2012
Ku tuliskan cerpen beserta
surat terakhir ini untuk mu karena kemarin kau memintanya.
Setelah ini aku akan
berhenti menulis sampai Allah menghilangkan perasaan ini padamu.
Terimakasih..Bangau
berkumis. Yakin lah aku selalu mencintaimu dalam semua keadaan.
Bismillahirrahmanirrahim..








