Terhaturkan Doa teragung
Untukmu.
Seseorang yang di halangi
dari pandangan ku.
Seseorang yang di
ciptakan dari bengkok nya tulang rusukku.
Seseorang yang tercipta
ketika aku terlelap dalam tidurku
Demi Allah aku selalu
mengenang mu. Mengharap mu. Merindumu.
Dalam setiap malam-malam
tahajjudku.
Ketika Allah masih
menyembunyikan mu.
Harap ku tak lepas untuk
mendoakan mu.
Mata ku tak lelah
menangisi keadaanmu.
Ya Allah yang maha agung.
Jagalah dia untu ku.
Sebagaimana Engkau
menjagaku.
Karena walau masih Samar
entah dimana.
Aku yakin semua akan
indah pada waktu nya.
“Baarakallahu laka wa baaraka`alaikuma,wa jama`abaina-kumaa fii
khair..”
''Semoga Allah Subhanahu' wa Ta'ala memberkatimu dan mengumpulkan
kalian dalam kebaikan”
****
Terselip doa pendek untuk mu wahai pujaan hatiku. Berharap Allah
memberkati dan menjaga mu selalu. Maaf aku harus pergi sementara, sekedar untuk
menepikan bayangan mu yang selalu berlabuh di dermaga batinku.
Aku melangkah
pedih meninggalkan kota Malang. Kepingan-kepingan kenangan bersama mbak sinta
ku sisipkan di saku langit. Aku tak mau membawa nya, jika akhirnya Allah masih
tak juga menghadirkan cinta di kalbu wanita itu.
Aku terduduk lesu di terminal
arjosari. Hatiku di liputi kebimbangan dengan bunga-bunga kegalauan yang ikut
menanyakan kepergianku. Sebenarnya apa penyebab kepergianku ini. hatiku
berbisik. Apa karena aku tak berhasil mendapatkan hati mbak sinta. Atau karena
aku tak mampu lagi menahan getirnya takdir yang mengutuk perjalanan asmaraku.
Entah lah ! sisi baik hatiku menjawab.
Lamunan ku buyar saat
suara supir Bus kencana berteriak lantang. Dari kata-kata nya dia
mengisyaratkan bahwa bus jurusan Malang-Surabaya sebentar lagi berangkat. Aku
berdiri. Ku gendong tas hitam ku dan segera naik ke dalam bus.
Alahmdulillah ternyata aku masih mendapat kan tempat duduk. Tepat di tengah bus. Aku merengkuh tas hitam
yang tadi ku gendong, ku balik dan segera ku simpan di hadapanku. Ku pejamkan
mata sejenak mencoba mengingat kembali kenangan ku di kota bunga, Malang. Alam
khayal ku terbang kemana-mana. Mulai dari pertama kali aku kemalang, Mendaftar
kuliah, mengenal teman-teman baru sampai pada suatu ketika aku mengenal Sinta.
Gadis mungil bermata indah ini rupanya kembali menguak ingatan ku akan kisah
tak sempurna yang kami jalan berdua. Di awali dari pertemuan pertama pada waktu
orientasi kampus, sampai pada waktu acara drama Kopisemu (salah satu nama Ukm)
di kampus. Dan di sana lah kisah ku bersama nya di mulai.
“Akh aku tak mau mengingat nya lagi” desis batinku dalam keadaan
terpejam.
Aku lantas berusaha bangun dari dunia kenangan karena tak ingin
bunga-bunga cinta ini semakin mengakar di hatiku. Aku membuka mata. Bibirku ku
kupaksakan bertasbih agar aku tak terjebak dalam permainan syaitan yang
menyesatkan.
Bus sudah mulai berjalan rupanya. Meninggalkan terminal serta sejuta
kenangan ku di bumi malang. Aku meraba tas hitam di depanku mencari-cari novel
yang kemarin aku beli di Mog. Belum
selesai aku mendapatkan nya, aku mendengar suara merdu mengamit untuk duduk di
kursi kosong sebelah ku.
Aku terkejut dan Ku coba mengalihkan
pandangan ku pada pemilik suara itu.
Tiba-tiba darah ku berdesir hebat menatap mata indah orang itu.
seorang gadis bercadar putih dengan tas jinjing di bahu nya. Dia lantas duduk
di sebelah ku setelah aku mengiyakan amitan nya.
Aku masih terdiam bisu melihat mata indah gadis bercadar
disampingku. bukan karena aku terpesona atau kagum pada nya tapi karena aku
seakan merasakan seseorang yang sangat ku cintai hadir dalam perjalanan ku
menghapus bayang nya kali ini.
“Mbak sinta !” bibir ku berucap tak sadar.
Gadis itu lalu menunduk mencoba mengalihkan pandangan. Ku dengar
dia beristighfar melihat tingkah ku yang aneh. Akhirnya aku di sadarkan oleh
Allah dari perangkap syaitan ketika untuk ketiga kali nya gadis bercadar itu
beristighfar.
“ehmmm Maaf ukhti !!” aku mengalihkan pandangan ke dinding kaca
di samping kiri ku.
“ tidak apa-apa akhi”!! dia menjawab .
Nyali ku menjadi ciut seketika. Sekarang aku hanya bisa terdiam
dan memandangi jejeran rumah yang seakan berlari dari laju bus.
Aku rupanya jadi salah tingkah pada gadis di sampingku. Antara kebingungan
dan penasaran. Bingung karena ada setetes embun dari langit membasahi kalbuku
kembali. Dan penasaran akan siapa gerangan wanita di balik cadar itu. apa
Sinta.? Akh rasanya tidak mungkin. Tapi kenapa mata gadis bercadar itu seindah
mata sinta. Kenapa juga hatiku basah kembali dengan cinta ketika menatap mata
nya.
“Duh ya gusti,, jauh kan lah hamba mu dari perangkap setan yang
butakan jalan”.
Aku mengeluh tak sadar. Rupanya hal itu mengundang reaksi dari
gadis bercadar disampingku.
“Akhi kenapa ? wajah akhi terlihat sedih.” Gadis itu membuka
percakapan.
Aku yang tak percaya mencoba menata hatiku. Beberapa detik
kemudian aku bereaksi.
“Akhi tidak apa-apa. Akhi cuma ingat seseorang ketika menatap
mata ukhti.”
Gadis itu terdiam mendengar statement ku. mungkin geli atau menganggap
ku konyol.
aku lalu bertanya hendak kemana ia pergi. Katanya kembali kerumah
suami nya di Surabaya.
Sedikit-demi sedikit rasa kaku kami cair. Kami berkenalan. Dia mengaku
bernama Rihana. Di menit-menit selanjutnya kami pun berbincang bak kakak dan
adik karena memang usia kami terpaut jauh. Dia dua puluh lima sedangkan aku
masih dua puluh.
Sampai di tengah perbincangan aku mencoba berbagi akan kisah ku
bersama Sinta.
“ Sebenar nya akhi kali pergi untuk lari dari kenyataan. Berharap
kepergian ini dapat menghapus lukisan wajah sinta di hatiku. Dia adalah wanita
yang sangat aku hormati sekaligus aku cintai. Tapi sayang Allah tak mengijinkan
kami bersama. Dia tak menerima cinta ku dengan alasan masih ingin sendiri. Aku tak
menyalahkan atas keputusan nya. tapi yang aku herankan mengapa Allah memberi perasaan
yang begitu besar kepadaku hingga aku tak kuasa membendungnya.
Setiap kali bertemu dengan nya pasti hatiku gerimis dan menangis
karena aku merasa lelaki paling sial di dunia. Bukan karena aku tak berhasil
memacarinya, tapi karena aku tak bisa membuka hatinya untuk terima hatiku. Pernah
sekali aku mencoba berontak pad` keputusan Allah. Waktu itu aku sangat menyesali
atas anugerah cinta dari-Nya dihatiku. Mengapa Allah tak adil kepadaku. Ketika semua
orang berbahagia memadu kasih dengan pasangan nya aku malah tak mampu merengkuh
hatinya. Di sisi lain Sahabat-sahabat ku rupanya faham akan keadaan ku. maka
nya mereka terus mensupport agar aku tak putus asa dan terus memperjuangkan
cintaku, namun jurang terjal menghentikan langkah awalku karena ternyata ketika
aku ingin memperjuangkan nya, dia malah menutup semua jalan menuju hatinya. Dengan
tanpa memberi celah kecil saja bagiku untuk sekedar membuktian kebeningan cinta
ini. Aku tambah terpuruk, dan belakangan hari kemarin aku berfikir untuk pergi
saja dari kota Malang. Dengan sejuta pertimbangan yang telah ku fikir
matang-matang akhirnya aku hari ini benar-benar pergi meninggalkan nya untuk
sementara.”.
Aku menagis mengakhiri ceritaku. Dalam hati aku beristighfar
semoga cinta ini tetap karena Allah dengan tidak di rajut oleh benang-benang
syaitan di tepian nya.
Rihana rupanya menitikkan air mata juga. Sayup-sayup suara
sesungukan tangis mengalir melewati cadar nya menuju daun telingaku. Aku heran
kenapa dia ikut larut dalam kesedihan yang mengusik kemarau panjang hatiku,
namun sebelum aku berani bertanya dia kemudian bercerita :
“ Akhi,,semoga Allah menjadikan mu laki-laki yang soleh, beriman
dan bertanggung jawab atas apa yang Allah berikan (Amin). Seyogyanya apa yang
di alami akhi juga di alami rihana. Sudah tiga tahun ini rihana berjuang
mati-matian untuk membuka hati Mas Indra Suamiku. Dia seorang sarjana hukum lulusan
Universitas Brawijaya Malang. Kami dulu di persatukan dalam ikatan pernikahan
karena orang tua kami menjunjung tinggi adat dan tradisi Madura. Karena dalam
tradisi Madura ada istilah di tunangkan sebelum bayi lahir ke dunia.
Dan pada suatu jumat yang hening mas Indra mengucap Akad di
hadapan penghulu. Pada awal-awal pernikahan aku sangat bahagia karena aku fikir
mas indra menikahiku atas dasar cinta. Tapi apa yang aku duga salah. Dia menikahiku
karena tak ingin mengecewakan ke dua orang tuanya.
Nah pada saat itu lah derita batin yang pedih mulai ku alami. Setiap
hari dia hanya bisa menyakiti hatiku dengan berpura-pura mesra di hadapan
mertua, tapi di belakang nya dia tak lebih menganggap ku sebagai sampah. Aku awal
nya merasa biasa-biasa saja namun lama-kelamaan naluri ku sebagai isteri
memaksa ku untuk mengubah jalan takdir itu.
aku akhirnya bersikap selembut dan sesantun mungkin pada mas
indra. Ku layani dia layak nya khadijah melayani baginda Rasulullah. Setiap hari
aku memasakkan kesukaan nya, menungguinya pulang bekerja sampai larut malam dan
mendoakan agar Allah selalu melindungi nya. Pernah suatu kali dia memintaku
agar aku berpuasa sebulan penuh untuk kebaikan nya, maka dengan keikhlasan karena
Allah aku menjalankan pinta nya agar aku tak menjadi isteri yang durhaka. Aku kira
semenjak kejadian itu dia mulai bisa menerima ku sebagai isteri yang di
cintainya tapi lagi-lagi aku salah. Dia ternyata hanya berakting di depan ku
sekedar untuk menydnangkan hatiku yang lelah menanti cinta dari nya. Pada usia
pernikahan yang menanjak delapan bulan kami pindah rumah. Tidak lagi tinggal
bersama mertua. Hasil kerja keras mas indera rupanya berbuah dengan mampu
membeli sebuah rumah cukup besar di daerah jembatan Suramadu. Kami pun tinggal
berdua di rumah yang besar itu bagai langit dan bumi. Setiap hari aku menangis
pilu karena tak sanggup lagi menahan getir nya takdir. Dia sangat perhatian
padaku malah mungkin perhatian nya lebih besar dari pada perhatianku. Tapi
sayangnya dia selalu jujur bahwa dia belum bisa mencintaiku sedikit pun. Dan itu
lah yang membuat ku bersedih.
Namun aku tak putus harapan. Hari-hari selanjutnya aku terus
berkorban agar dia menyadari besarnya cintaku dan hingga akhirnya bisa
menganggap aku sebagai isteri sah nya. tapi tepat pada bulan January lalu, aku di
kagetkan oleh sebuah boneka teddy bear beserta sepuluh puisi cinta di koper nya. Aku memberanikan
diri membaca nya, dan betapa aku ingin mati saja ketika aku tahu bahwa puisi
itu di buat untuk mantan pacar nya yang sampai detik ini belum bisa ia lupakan,
pantas saja semua usahaku sia-sia rupanya semua itu karena dia belum bisa melupakan
mantan kekasih nya, dan yang lebih perih Allah belum membukakan pintu cinta nya
buat ku. semenjak kejadian itu aku menjadi tak tau harus berbuat apa dan sampai
sekarang aku hanya bisa berdoa dan berdoa agar kelak dia akan mencintaiku layak
nya pasngan pada umum nya.
Biarlah ketika mata hati nya belum terbuka aku mendoakan nya
sepanjang masa. Aku ikhlas mencintainya dalam doa. Hanya dalam doa.”
Dia mengakhiri ceritanya dengan mata basah. Aku juga begitu. Tak
kusangka aku belum seberapa di bandingkan Rihana. Ya Allah ampunilah hamba mu
yang tak bersyukur ini.
Aku lantas mengeluarkan sapu tangan dari saku celanaku. Ku julurkan
agar dia menghapus air mata nya. Aku sungguh tak sanggup melihat wanita manapun
menangis di hadapanku apalagi wanita-wanita sholeha seperti rihana. Setelah menghapus
air mata nya, tak ku sangka aku di berikan sebuah amanah oleh nya.
“Akhi…sekarang akhi telah mendengar perjalanan cinta ku. dan
kuharap sekarang akhi mengurungkan niat untuk meninggalkan malang . Kembalilah kesana.
Disana masih banyak orang yang membutuhkan akhi. Jihat kan lah diri dan ilmu
akhi dalam jalan Allah yang benar. Dan masalah cinta akhi dengan sinta. Ku harap
akhi tidak menyerah disini. Ingat “if there is a will there is a way”. Tunggulah
dengan sabar dia akhi, aku yakin Allah nanti nya akan membukakan pintu hatinya
walau kita tak tau kapan. Percayalah ketika Allah dengan mudah memberikan cinta
yang besar itu pada akhi maka Allah akan dengan mudah pula menganugerahkan
cinta pada nya. Dan masalah jalan yang telah ditutup rapat olehnya, berdoalah
agar Allah membukakan nya.
Bersabarlah akhi untuk menantinya, jika dia tetap tak membukakan
jalan untuk akhi menyentuh hatinya. maka cintailah dia dengan mendoakan
kebaikan untuk nya. Sesungguh nya laki-laki yang baik pasti akan selalu
mendapatkan wanita yang baik pula. Dan aku
yakin sinta dan akhi adalah orang baik, maka tidak menutup kemungkinan Allah
akan membuka pintu hatinya kelak.
Ingat akhi …cintailah dia meski hanya dengan mendoakan nya. Walau
dia tak memilih akhi kelak, tetap cintainya dengan doa,,dan selalu sayanginya dengan
doa.
biarkan lah semuanya
menjadi “Ketika Cinta Berbuah Duka.”
Aku luluh mendengar amanah dari rihana. Tiba-tiba lukisan senyum
sinta mengalir kembali di telaga kalbuku. Aku menjadi sangat mencintai sinta
lebih dari cinta yang kemarin aku rasakan. Aku berjanji untuk selalu
mencintainya walau dia tak memilihku karena sejatinya aku masih bisa
mencintainya dengan mendoakan kebaikan bagi nya. Terimakasih Rihana. Aku tak
akan menyia-nyiakan amanah mu. Pertemuan singkat kita di bus ini akan aku
kenang sebagai awal dari perjalanan cintaku. Ku doakan pula agar suami mu kelak
dapat melupakan mantan kekasih nya dan berbalik mencintaimu. Terimakasih Allah.
Menjadikan ku laki-laki yang masih punya cinta.\
Tiba di Bungurasi, aku naik lagi Bus jurusan Surabaya-Malang.
*** Cerpen ini ditulis di Malang. 20 maret 2012. Tepat pukul
04:23.
“Sinta
semoga kau selalu dalam lindungan Allah ”
The
End



Tidak ada komentar:
Posting Komentar