Kamis, 11 Oktober 2012

Ketika Cinta berbuah Duka




Ketika Cinta berbuah Duka

Terhaturkan Doa teragung Untukmu.
Seseorang yang di halangi dari pandangan ku.
Seseorang yang di ciptakan dari bengkok nya tulang rusukku.
Seseorang yang tercipta ketika aku terlelap dalam tidurku
Demi Allah aku selalu mengenang mu. Mengharap mu. Merindumu.
Dalam setiap malam-malam tahajjudku.
Ketika Allah masih menyembunyikan mu.
Harap ku tak lepas untuk mendoakan mu.
Mata ku tak lelah menangisi keadaanmu.
Ya Allah yang maha agung.
Jagalah dia untu ku.
Sebagaimana Engkau menjagaku.
Karena walau masih Samar entah dimana.
Aku yakin semua akan indah pada waktu nya.
“Baarakallahu laka wa baaraka`alaikuma,wa jama`abaina-kumaa fii khair..”
''Semoga Allah Subhanahu' wa Ta'ala memberkatimu dan mengumpulkan kalian dalam kebaikan”
****
Terselip doa pendek untuk mu wahai pujaan hatiku. Berharap Allah memberkati dan menjaga mu selalu. Maaf aku harus pergi sementara, sekedar untuk menepikan bayangan mu yang selalu berlabuh di dermaga batinku.
          Aku melangkah pedih meninggalkan kota Malang. Kepingan-kepingan kenangan bersama mbak sinta ku sisipkan di saku langit. Aku tak mau membawa nya, jika akhirnya Allah masih tak juga menghadirkan cinta di kalbu wanita itu.
Aku terduduk lesu di terminal arjosari. Hatiku di liputi kebimbangan dengan bunga-bunga kegalauan yang ikut menanyakan kepergianku. Sebenarnya apa penyebab kepergianku ini. hatiku berbisik. Apa karena aku tak berhasil mendapatkan hati mbak sinta. Atau karena aku tak mampu lagi menahan getirnya takdir yang mengutuk perjalanan asmaraku. Entah lah ! sisi baik hatiku menjawab.
Lamunan ku buyar saat suara supir Bus kencana berteriak lantang. Dari kata-kata nya dia mengisyaratkan bahwa bus jurusan Malang-Surabaya sebentar lagi berangkat. Aku berdiri. Ku gendong tas hitam ku dan segera naik ke dalam bus.
Alahmdulillah ternyata aku masih mendapat kan tempat duduk.  Tepat di tengah bus. Aku merengkuh tas hitam yang tadi ku gendong, ku balik dan segera ku simpan di hadapanku. Ku pejamkan mata sejenak mencoba mengingat kembali kenangan ku di kota bunga, Malang. Alam khayal ku terbang kemana-mana. Mulai dari pertama kali aku kemalang, Mendaftar kuliah, mengenal teman-teman baru sampai pada suatu ketika aku mengenal Sinta. Gadis mungil bermata indah ini rupanya kembali menguak ingatan ku akan kisah tak sempurna yang kami jalan berdua. Di awali dari pertemuan pertama pada waktu orientasi kampus, sampai pada waktu acara drama Kopisemu (salah satu nama Ukm) di kampus. Dan di sana lah kisah ku bersama nya di mulai.
“Akh aku tak mau mengingat nya lagi” desis batinku dalam keadaan terpejam.
Aku lantas berusaha bangun dari dunia kenangan karena tak ingin bunga-bunga cinta ini semakin mengakar di hatiku. Aku membuka mata. Bibirku ku kupaksakan bertasbih agar aku tak terjebak dalam permainan syaitan yang menyesatkan.
Bus sudah mulai berjalan rupanya. Meninggalkan terminal serta sejuta kenangan ku di bumi malang. Aku meraba tas hitam di depanku mencari-cari novel yang kemarin aku beli di Mog.  Belum selesai aku mendapatkan nya, aku mendengar suara merdu mengamit untuk duduk di kursi kosong sebelah ku.
Aku terkejut dan  Ku coba mengalihkan pandangan ku pada pemilik suara itu.
Tiba-tiba darah ku berdesir hebat menatap mata indah orang itu. seorang gadis bercadar putih dengan tas jinjing di bahu nya. Dia lantas duduk di sebelah ku setelah aku mengiyakan amitan nya.
Aku masih terdiam bisu melihat mata indah gadis bercadar disampingku. bukan karena aku terpesona atau kagum pada nya tapi karena aku seakan merasakan seseorang yang sangat ku cintai hadir dalam perjalanan ku menghapus bayang nya kali ini.
“Mbak sinta !” bibir ku berucap tak sadar.
Gadis itu lalu menunduk mencoba mengalihkan pandangan. Ku dengar dia beristighfar melihat tingkah ku yang aneh. Akhirnya aku di sadarkan oleh Allah dari perangkap syaitan ketika untuk ketiga kali nya gadis bercadar itu beristighfar.
“ehmmm Maaf ukhti !!” aku mengalihkan pandangan ke dinding kaca di samping kiri ku.
“ tidak apa-apa akhi”!! dia menjawab .
Nyali ku menjadi ciut seketika. Sekarang aku hanya bisa terdiam dan memandangi jejeran rumah yang seakan berlari dari laju bus.
          Tak terasa bus sudah benar-benar  pergi meninggalkan malang. Ku pandangi lajunya kini membelah kota pasuruan yang di hiasi rindang nya pepohonan di kanan kiri jalan.  Beberapa bangunan besar seperti mall dan tempat wisata lainnya juga menambah kelengkapan kota ini.
Aku rupanya jadi salah tingkah pada gadis di sampingku. Antara kebingungan dan penasaran. Bingung karena ada setetes embun dari langit membasahi kalbuku kembali. Dan penasaran akan siapa gerangan wanita di balik cadar itu. apa Sinta.? Akh rasanya tidak mungkin. Tapi kenapa mata gadis bercadar itu seindah mata sinta. Kenapa juga hatiku basah kembali dengan cinta ketika menatap mata nya.
“Duh ya gusti,, jauh kan lah hamba mu dari perangkap setan yang butakan jalan”.
Aku mengeluh tak sadar. Rupanya hal itu mengundang reaksi dari gadis bercadar disampingku.
“Akhi kenapa ? wajah akhi terlihat sedih.” Gadis itu membuka percakapan.
Aku yang tak percaya mencoba menata hatiku. Beberapa detik kemudian aku bereaksi.
“Akhi tidak apa-apa. Akhi cuma ingat seseorang ketika menatap mata ukhti.”
Gadis itu terdiam mendengar statement ku. mungkin geli atau menganggap ku konyol.
aku lalu bertanya hendak kemana ia pergi. Katanya kembali kerumah suami nya di Surabaya.
Sedikit-demi sedikit rasa kaku kami cair. Kami berkenalan. Dia mengaku bernama Rihana. Di menit-menit selanjutnya kami pun berbincang bak kakak dan adik karena memang usia kami terpaut jauh. Dia dua puluh lima sedangkan aku masih dua puluh.
Sampai di tengah perbincangan aku mencoba berbagi akan kisah ku bersama Sinta.
“ Sebenar nya akhi kali pergi untuk lari dari kenyataan. Berharap kepergian ini dapat menghapus lukisan wajah sinta di hatiku. Dia adalah wanita yang sangat aku hormati sekaligus aku cintai. Tapi sayang Allah tak mengijinkan kami bersama. Dia tak menerima cinta ku dengan alasan masih ingin sendiri. Aku tak menyalahkan atas keputusan nya. tapi yang aku herankan mengapa Allah memberi perasaan yang begitu besar kepadaku hingga aku tak kuasa membendungnya.
Setiap kali bertemu dengan nya pasti hatiku gerimis dan menangis karena aku merasa lelaki paling sial di dunia. Bukan karena aku tak berhasil memacarinya, tapi karena aku tak bisa membuka hatinya untuk terima hatiku. Pernah sekali aku mencoba berontak pad` keputusan Allah. Waktu itu aku sangat menyesali atas anugerah cinta dari-Nya dihatiku. Mengapa Allah tak adil kepadaku. Ketika semua orang berbahagia memadu kasih dengan pasangan nya aku malah tak mampu merengkuh hatinya. Di sisi lain Sahabat-sahabat ku rupanya faham akan keadaan ku. maka nya mereka terus mensupport agar aku tak putus asa dan terus memperjuangkan cintaku, namun jurang terjal menghentikan langkah awalku karena ternyata ketika aku ingin memperjuangkan nya, dia malah menutup semua jalan menuju hatinya. Dengan tanpa memberi celah kecil saja bagiku untuk sekedar membuktian kebeningan cinta ini. Aku tambah terpuruk, dan belakangan hari kemarin aku berfikir untuk pergi saja dari kota Malang. Dengan sejuta pertimbangan yang telah ku fikir matang-matang akhirnya aku hari ini benar-benar pergi meninggalkan nya untuk sementara.”.
Aku menagis mengakhiri ceritaku. Dalam hati aku beristighfar semoga cinta ini tetap karena Allah dengan tidak di rajut oleh benang-benang syaitan di tepian nya.
Rihana rupanya menitikkan air mata juga. Sayup-sayup suara sesungukan tangis mengalir melewati cadar nya menuju daun telingaku. Aku heran kenapa dia ikut larut dalam kesedihan yang mengusik kemarau panjang hatiku, namun sebelum aku berani bertanya dia kemudian bercerita :
“ Akhi,,semoga Allah menjadikan mu laki-laki yang soleh, beriman dan bertanggung jawab atas apa yang Allah berikan (Amin). Seyogyanya apa yang di alami akhi juga di alami rihana. Sudah tiga tahun ini rihana berjuang mati-matian untuk membuka hati Mas Indra Suamiku. Dia seorang sarjana hukum lulusan Universitas Brawijaya Malang. Kami dulu di persatukan dalam ikatan pernikahan karena orang tua kami menjunjung tinggi adat dan tradisi Madura. Karena dalam tradisi Madura ada istilah di tunangkan sebelum bayi lahir ke dunia.
Dan pada suatu jumat yang hening mas Indra mengucap Akad di hadapan penghulu. Pada awal-awal pernikahan aku sangat bahagia karena aku fikir mas indra menikahiku atas dasar cinta. Tapi apa yang aku duga salah. Dia menikahiku karena tak ingin mengecewakan ke dua orang tuanya.
Nah pada saat itu lah derita batin yang pedih mulai ku alami. Setiap hari dia hanya bisa menyakiti hatiku dengan berpura-pura mesra di hadapan mertua, tapi di belakang nya dia tak lebih menganggap ku sebagai sampah. Aku awal nya merasa biasa-biasa saja namun lama-kelamaan naluri ku sebagai isteri memaksa ku untuk mengubah jalan takdir itu.
aku akhirnya bersikap selembut dan sesantun mungkin pada mas indra. Ku layani dia layak nya khadijah melayani baginda Rasulullah. Setiap hari aku memasakkan kesukaan nya, menungguinya pulang bekerja sampai larut malam dan mendoakan agar Allah selalu melindungi nya. Pernah suatu kali dia memintaku agar aku berpuasa sebulan penuh untuk kebaikan nya, maka dengan keikhlasan karena Allah aku menjalankan pinta nya agar aku tak menjadi isteri yang durhaka. Aku kira semenjak kejadian itu dia mulai bisa menerima ku sebagai isteri yang di cintainya tapi lagi-lagi aku salah. Dia ternyata hanya berakting di depan ku sekedar untuk menydnangkan hatiku yang lelah menanti cinta dari nya. Pada usia pernikahan yang menanjak delapan bulan kami pindah rumah. Tidak lagi tinggal bersama mertua. Hasil kerja keras mas indera rupanya berbuah dengan mampu membeli sebuah rumah cukup besar di daerah jembatan Suramadu. Kami pun tinggal berdua di rumah yang besar itu bagai langit dan bumi. Setiap hari aku menangis pilu karena tak sanggup lagi menahan getir nya takdir. Dia sangat perhatian padaku malah mungkin perhatian nya lebih besar dari pada perhatianku. Tapi sayangnya dia selalu jujur bahwa dia belum bisa mencintaiku sedikit pun. Dan itu lah yang membuat ku bersedih.
Namun aku tak putus harapan. Hari-hari selanjutnya aku terus berkorban agar dia menyadari besarnya cintaku dan hingga akhirnya bisa menganggap aku sebagai isteri sah nya. tapi tepat pada bulan January lalu, aku di kagetkan oleh sebuah boneka teddy bear beserta  sepuluh puisi cinta di koper nya. Aku memberanikan diri membaca nya, dan betapa aku ingin mati saja ketika aku tahu bahwa puisi itu di buat untuk mantan pacar nya yang sampai detik ini belum bisa ia lupakan, pantas saja semua usahaku sia-sia rupanya semua itu karena dia belum bisa melupakan mantan kekasih nya, dan yang lebih perih Allah belum membukakan pintu cinta nya buat ku. semenjak kejadian itu aku menjadi tak tau harus berbuat apa dan sampai sekarang aku hanya bisa berdoa dan berdoa agar kelak dia akan mencintaiku layak nya pasngan pada umum nya.
Biarlah ketika mata hati nya belum terbuka aku mendoakan nya sepanjang masa. Aku ikhlas mencintainya dalam doa. Hanya dalam doa.”
Dia mengakhiri ceritanya dengan mata basah. Aku juga begitu. Tak kusangka aku belum seberapa di bandingkan Rihana. Ya Allah ampunilah hamba mu yang tak bersyukur ini.
Aku lantas mengeluarkan sapu tangan dari saku celanaku. Ku julurkan agar dia menghapus air mata nya. Aku sungguh tak sanggup melihat wanita manapun menangis di hadapanku apalagi wanita-wanita sholeha seperti rihana. Setelah menghapus air mata nya, tak ku sangka aku di berikan sebuah amanah oleh nya.
“Akhi…sekarang akhi telah mendengar perjalanan cinta ku. dan kuharap sekarang akhi mengurungkan niat untuk meninggalkan malang . Kembalilah kesana. Disana masih banyak orang yang membutuhkan akhi. Jihat kan lah diri dan ilmu akhi dalam jalan Allah yang benar. Dan masalah cinta akhi dengan sinta. Ku harap akhi tidak menyerah disini. Ingat “if there is a will there is a way”. Tunggulah dengan sabar dia akhi, aku yakin Allah nanti nya akan membukakan pintu hatinya walau kita tak tau kapan. Percayalah ketika Allah dengan mudah memberikan cinta yang besar itu pada akhi maka Allah akan dengan mudah pula menganugerahkan cinta pada nya. Dan masalah jalan yang telah ditutup rapat olehnya, berdoalah agar Allah membukakan nya.
Bersabarlah akhi untuk menantinya, jika dia tetap tak membukakan jalan untuk akhi menyentuh hatinya. maka cintailah dia dengan mendoakan kebaikan untuk nya. Sesungguh nya laki-laki yang baik pasti akan selalu mendapatkan wanita yang  baik pula. Dan aku yakin sinta dan akhi adalah orang baik, maka tidak menutup kemungkinan Allah akan membuka pintu hatinya kelak.
Ingat akhi …cintailah dia meski hanya dengan mendoakan nya. Walau dia tak memilih akhi kelak, tetap cintainya dengan doa,,dan selalu sayanginya dengan doa.
 biarkan lah semuanya menjadi “Ketika Cinta Berbuah Duka.”
Aku luluh mendengar amanah dari rihana. Tiba-tiba lukisan senyum sinta mengalir kembali di telaga kalbuku. Aku menjadi sangat mencintai sinta lebih dari cinta yang kemarin aku rasakan. Aku berjanji untuk selalu mencintainya walau dia tak memilihku karena sejatinya aku masih bisa mencintainya dengan mendoakan kebaikan bagi nya. Terimakasih Rihana. Aku tak akan menyia-nyiakan amanah mu. Pertemuan singkat kita di bus ini akan aku kenang sebagai awal dari perjalanan cintaku. Ku doakan pula agar suami mu kelak dapat melupakan mantan kekasih nya dan berbalik mencintaimu. Terimakasih Allah. Menjadikan ku laki-laki yang masih punya cinta.\
Tiba di Bungurasi, aku naik lagi Bus jurusan Surabaya-Malang.
Malang aku kembali lagi dengan semangat baru.

*** Cerpen ini ditulis di Malang. 20 maret 2012. Tepat pukul 04:23.
“Sinta semoga kau selalu dalam lindungan Allah ”
The End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar