“Man Jadda Wa
Jadda”
Bisimillahirrahmanirrahim.
Ya Allah yang maha diatas maha Yang esa diatas esa.
Sekarang si kerdl ini kembali bersimpuh di hadapan
Mu.
Menadahkan tangan untuk memohon sesuatu.
Menitikkan air mata untuk panjatkan sejuta doa .
Ya Allah..ya rahman.
Terimakasih atas semua nikmat yang telah engkau
berikan.
Islam ini,
Iman ini, ilmu ini, cinta ini, jiwa ini, raga ini, nafas ini
Dan semua ini-ini yang tak dapat hamba sebutkan
satu persatu.
Ya Allah ya rahim.
Awal kata semoga tetap tercurahkan seuntai nikmat
keselamatan, kesehatan, kelancaran rizki, dan ketetapan islam dan iman kepada
kedua orang tua yang nun jauh disana.
Semoga lindungan dan cahaya cinta-Mu selalu
menyinari hidup mereka
agar pengorbanan yang mereka lakukan untuk hamba
tidak terbayar dengan sia-sia.
Rabbigh firli waliwa lidayya warham huma kama
rabbayani soghiro.
Ya Allah yang maha agung.
Seandainya Di laukhul makhfudz sana sudah engkau
tuliskan
Dia akan menjadi teman untuk arungi samudera
hidup.
rapatkan lah jiwa ku dan jiwa nya.
Gantungkanlah nikmat kebahagiaan di antara kami.
Agar cinta yang karena-Mu ini abadi.
Tetapi ya Allah.
Seandainya sudah engkau gariskan Dia bukan
untukku,
Bawalah ia menjauh dari hidupku,
Lupakanlah ia dari ingatan ku.
Dan peliharalah hamba dari rasa kecewa yang
butakan jalan ini.
Ya Allah yang maha adil.
Aku berlindung padamu atas baik buruk nya hidupku.
Seandainya pula, terlukis indah jika dia akan
menjadi teman dalam kebaikan.
Maka Erat kan lah hatiku dan hatinya.
Persatukanlah kembali jarak yang pernah terputus
Dan tumbuh suburkan lah cinta yang berdasarkan
cinta karena mu ini.
Ya Allah ….
Cukuplah engkau saja sebagai tempat berteduh ku.
Berteduh dari kemaksiaatan, berteduh dari jebakan
syaitan jahanam.
Jika di akhir penantian dan perjuangan ini hamba
gagal menggugah hatinya.
Maka demi nama-Mu yang agung.
Hapuskan lah nama indah nya di hati hamba.
Agar cinta ini tak sia-sia dan kembali pada
hakikat nya.
***
***
Lelah hati ini, lelah jiwa ini. Sungguh pekerjaan paling
membosankan adalah menanti. Menanti sesuatu yang tak pernah pasti. Apalagi jika
di akhir penantian harus menerima kenyataan bahwa yang kita nanti tak pernah
peduli atau hanya sekedar memalingkan muka untuk bersimpati.
“Akh,,,mungkin ini sudah takdirku!” aku berucap resah sambil sesekali
menenangkan hatiku.
Aku malam ini tak bisa tidur nyenyak lagi. Sudah dua minggu
semenjak aku mengalami pengalaman terpahit itu. tiap kali aku tidur pasti
tengah malam aku bangun. Dan ketika aku bangun wajah nya, senyumnya, tutur kata
nya dan semua hal tentang nya terbayang lagi di fikiranku. Aku tak sanggup jika
terus begini, karena ini hanya akan membuat ku semakin tersiksa.
Tapi apalah daya. Aku, hatiku dan hidupku adalah milik ALLAH.
sekuat apapun aku ingin berpaling jika Allah tak mengijinkan nya pasti hanya
akan sia-sia. Jadi ku ikhlaskan saja semua ini terjadi kepadaku.
***
Aroma keindahan langit
baru saja tergurat bersama mentari. Hangat cahaya nya terpancar bagai tangan
tuhan yang siap menjinjing ku ke dalam buta nya takdir. Sedangkan keinginan,
harapan dan kemauan hanya bisa menjadi bingkai dari lukisan takdir yang merajam
harap.
Aku termenung di dalam kelas sambil memainkan bolpoin ke kanan
dan ke kiri. Mata ku kosong, fikiran ku kosong. Aku hari ini benar-benar tak
bisa berkonsentrasi pada mata kuliah yang di ajarkan. entah kenapa tapi aku
merasa hatiku semakin di landa kemarau panjang setelah memutuskan untuk
memperjuangkan cinta ku pada sinta.
“I will be there.
If one day you feel like crying...
Call me.
I don't promise if I will make you laugh,
But I can cry with you
If one day you want to run away--
Don't be afraid to call me.
I don't promise to ask you to stop...
But I can run with you
If one day you don't want to listen
to anyone...
Call me. I promise to be there for you.
And I promise to be very quiet.
But if one day you call...
And there is no answer...
Come fast to see me.
Perhaps I need you sinta
Tanpa sadar aku mencorat-coret kertas di hadapan ku. entah apa
yang aku tulis, aku tak tahu. Tapi aku baru menyadari jika aku merangkai
seuntai puisi ketika sahabat ku Indi duduk disampingku dan membaca tulisan itu.
“Ya Ampun Angga bagus banget puisi nya !” suaranya menyadarkan
lamunan ku.
“Apanya yang bagus ?” tanya ku tak faham.
“Ini Angga, puisi yang kamu buat” dia menyodorkan puisi itu ke
hadapan ku.
Aku membaca nya. Perasaan heran ku mencuat. Aku heran kenapa aku
bisa menulis puisi, padahal tadi aku dalam keadaan tak sadar, mungkin (Andilau)
antara dilema dan galau.
Aku terus membaca nya. Hatiku menangis perlahan ketika di akhir
kalimat ku tuliskan nama Sinta. Ya Allah kenapa dalam alam bawah sadar
sekalipun aku masih terus memikirkan nya. Apa sebesar itu pengaruh nya, sampai
aku tak berhenti memikirkan nya walau sedetik. Aku mendesah pelan mengingat
wanita impian ku itu, hatiku kembali menangis mengingat dia kini telah bersama
orang lain, walau menurut nya hanya sebatas pembalasan budi belaka.
“Kamu memang lebih pantas bersama nya Sinta, karena dia lebih
banyak berkorban di bandingkan aku !” kalimat itu keluar tanpa ku sadari. Indi
yang faham akan perasaanku mengelus bahuku seraya berucap.
“ Sudah lah Angga ! kamu harus sabar. Mungkin belum waktu nya
saja kamu memiliki nya. Sejarang mungkin kamu lebih baik melupakan nya untuk
sementara agar..”
“ Apa ! melupakan nya ! indi kamu tau aku sangat mencitainya
sampai-sampai dia menjadi isnpirasi dari apa yang aku lakukan dan aku tuliskan.
Jadi bagaimana bisa aku melupakan nya jika setiap aku menulis cintaku semakin
besar pada nya. Dia itu ispirasiku indi, dia itu Tulisanku”. Indi terdiam
mendengar aku memotong kata-katanya yang belum usai.
“Maksudku bukan gitu Angga, aku Cuma gak ingin kamu
terus-terusan begini, aku kasihan sama kamu, aku ngerasa kamu hanya di
permainkan Sinta. kamu harus tau angga jika dia memang memiliki perasaan yang
sama pada mu dia pasti tidak akan bersama lelaki itu” ! aku balik terdiam
mendengar ucapan indi. Aku menunduk tak berani menatap nya. Dalam hati kecil
aku bersyukur karena masih di anugerahkan sahabat seperti dia. dia sungguh baik
pada ku apalagi dia tak pernah membiarkan aku sendiri ketika topan kesedihan
meluluh lantakkan hatiku.
Kami terdiam untuk beberapa saat. Namun kemudian indi berlalu
pergi setelah sebelumnya membesarkan hatiku kembali.
Aku masih terdiam
dikelas. Kepalaku tertunduk sambil menggenggam puisi yang tadi aku buat. Dalam
diam kurasakan Rihana (wanita becadar putih yang ku temui di bus kencana)
kembali ke alam fikir ku yang sedang galau. Rihana tersenyum sambil menaikkan
alis kirinya.
“Angga kamu kenapa? Semuanya belum usai. Kamu masih bisa
menggenggam cintamu jika kamu mau. Ingat Angga berusaha dan berdoa. Jika hari
ini kamu gagal, berusaha lah lagi, berdoa lah lagi. siapa tahu esok kamu
berhasil. Ingat Angga _Allah Tidak akan
mengubah nasib suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang mengubah nya_
jadi Bangkitlah lagi Angga ! bukan kah kamu seseorang lelaki sejati. Banyak
cara untuk membuktikan cintamu pada nya. Jika lelaki yang kini bersama nya
berkorban dengan memberi dan memenuhi apa yang dia mau, maka kamu harus juga
begitu, malah bila perlu lebih dari itu. berjuanglah dengan doa serta tulisan
mu. Man Jadda Wa jadda Angga !! Man Jadda Wa jadda Angga!” Rihana
perlahan menghilang dari alam bawah sadar ku berganti suara Adzan dzuhur yang
membangunkan aku dari mimpi bertemu rihana
yang sesaat.
Aku beristighfar lirih
disusul langkah kaki ku keluar kelas menuju masjid di samping kampus. Setiba di
masjid, aku langsung melaksanakan shalat tahyatul masjid dilanjutkan shalat
Dzuhur yang di Imami Salah satu Dosen mata kuliah ku, Pak Ahmad Ramadhan.
Beliau adalah lulusan universitas
nasional Australia (The Australian National University; disingkat ANU) dan juga
pernah mondok di al-Anwar Jombang. Seusai
shalat aku menemui pak Ramadhan. Kami berbincang-bincang di teras masjid.
Aku memulai percajapan dengan sedikit bertanya tentang pesantren
Al-anwar. Bagaimana keadaan disana? Seperti apa strukturnya sampai hal-hal
terkecil tentang pesantren yang merupakan pesantren Almarhum Gusdur atau kiai
Abdurrahman wahid itu. Pak Ramadhan menjawab dengan penuh semangat sampai pada
sebuah kisah di mana kisah itu membuat aku menitikkan air mata.
“Angga, saya bersyukur sekali karena Allah selalu di samping
saya. Meski banyak orang menyangka saya telah kufur atas nikmat yang telah
Allah berikan. Kamu harus tahu. dulu waktu saya mondok di al-Anwar saya
merupakan satu-satunya santri termiskin yang pernah ada. Saya berangkat mondok
atas biaya dari paman saya yang bekerja di Malaysia sebagai Tki. Awal nya
semuanya berjalan normal layaknya santri yang lain tapi semenjak paman saya di
pulangkan ke Indonesia karena surat-surat perijinan nya tidak lengkap, saya
baru merasakan nya getir hidup yang menyiksa. Dimana kadang sehari saya hanya
makan sisa-sisa makanan dari santri lain. Semua itu tak membuat saya putus asa.
Tiap hari tiap malam saya selalu berdoa agar kelak Allah mengubah jalan hidup
saya. Saya juga tak pernah berhenti belajar. Setiap detik yang saya pegang
hanyalah buku dan kitab. Tak sedetik pun waktu saya lewati untuk bersantai. Dan
itu membuah kan hasil, Karena walau saya merupakan santri termiskin di al-anwar
saya juga termasuk santri yang di sayang kiai waktu itu karena saya sering
meraih bintang kelas.
Namun saya akhirnya memutuskan menjadi abdi dalem kiai
(pembantu) setelah keadaan financial saya memburuk karena Ayah saya meninggal
dan paman saya sakit keras. Saya sungguh terpukul waktu itu sampai beberapa
saat lama nya saya fakum dari dunia pesantren dan hanya berkecimpung dalam
membantu urusan kiai. Dalam keadaan yang buruk itu Allah mempertemukan saya
dengan Hani Sabila Fahrani, dia adalah puteri bungsu kiai. Waktu itu kami di
pertemukan saat saya tidak sengaja menemukan kitab Al-hikam nya yang hilang.
Dan sejak itu lah kami mengagumi satu sama lain dalam diam. Kami tak pernah
mengotori hubungan kami dengan yang nama nya bersentuhan atau apalah . Hanya
cahaya mata dan senyuman yang menjadi tanda akan cinta kami yang mulai mengakar
di dada. Subhanallah.. Dia adalah wanita terbaik yang pernah saya kenal. Selain
alim, dia juga cantik. Apalagi akhlakul
karimah serta jilbab yang selalu menemani langkah nya membuat semua lelaki di
bumi ini rela di madu jika dalam islam di perbolehkan. Sedangkan saya, Saya
hanya lelaki miskin yang hanya mempunyai keinginan kuat untuk merubah jalan hidup.
Tidak pantas bukan?
Namun dalam kegalauan itu hani selalu membesarkan hati saya. Dia
berkata jika semua mahluk di mata Allah sama, yang membedakan hanyalah
ketakwaan dan keimanan saja. Jadi saya tidak boleh merasa malu menjalani jalan
setapak di kehidupan bersama nya. Kami pun tetap bersama sampai pada suatu
ketika dimana ada seorang putera kiai dari jawa tengah datang melamar hani.
Hani yang hatinya telah terikat kuat dengan saya akhirnya
menolak dengan alasan dia masih ingin menuntut ilmu dan belum berfikiran untuk
berumah tangga. Namun fatal nya dalam alasan itu kiai menemukan sebuah fakta
bahwa saya dan hani saling mencintai, makanya hani menolak lamaran itu. kiai
pun murka dan saya hampir di usir dari pondok pesantren. untungnya hani membela
saya. Dia berkata pada kiai jika kiai memang bijaksana maka kiai harus memberi
kesempatan pada saya. Kiai yang memang bijaksana pun akhirnya memberi
kesempatan atas permintaan hani. Kiai berkata jika saya memang benar-benar
serius ingin mengkhitbah hani maka persyaratan utama nya adalah saya harus
lebih alim dari hani dan kiai, tidak hanya dalam keagamaan tapi juga dalam
ilmu-ilmu umum lainnya. Saya menyetujui persyaratan itu atas dasar itu adalah
kewajiban bagi calon Imam buat hani dan rasa cinta yang sangat besar pada nya.
hari demi hari saya lewati untuk belajar, berdoa dan berjuang.
Tak pernah sekejap saya putus asa meski sandungan demi sandungan menghalangi
jalan saya. Hingga pada suatu jumat yang indah saya mendapat sepucuk surat yang
merupakan Beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Australia. Saya lansung mengabar
kan surat itu pada keluarga dan hani. Mereka sangat bahagia walau sedikit
kesedihan merasuk hati saya karena harus meninggalk`n tanah kelahiran apalagi
hani.
Sebulan setelah nya saya berangkat dan tibalah saya menjalani
hari-hari tanpa hani. Dalam masa empat tahun itu saya bersungguh-sungguh kuliah
walau rintangan demi rintangan saya hadapi.
Demi hani semuanya akan saya lakukan. Pikir saya. Namun rupanya Allah
berkehendak lain. Ketika saya semester enam tersiar kabar entah dari mana jika
saya tersandung narkoba dan menurut kabar itu saya menjadi pengedar nya. Hani
dan kiai yang mendengar kabar itu sangat kecewa dan terpukul, sampai akhirnya
hani di jodohkan kembali dengan putera kiai yang sudah menyatakan lamaran nya
dulu. mereka menikah walau tidak di karuniai seorang buah hati.
Saya yang tidak tau apa-apa pulang ke Indonesia dengan sangat
bahagia karena menjadi lulusan terbaik di Australian National University . Niat
dan cita-cita ingin mempersunting hani musnah seketika saat saya mendengar dia telah bersama orang lain. Saya tidak mampu menahan
pedih itu dan tanpa disangka saya murtad dan keluar dari islam. Dalam tempo
panjang yang butakan jalan saya itu Allah rupanya semakin menumbuhkan cinta
dalam hati hani, karena akhirnya hani tau jika saya tidak bersalah dan tidak
pernah berurusan dengan narkoba. Dia berdoa agar semua kebenaran terungkap dan
saya diberi ketabahan untuk kembali lagi pada jalan yang benar, Islam. Doa hani
berbuah. Tiga bulan kemudian saya
kembali sadar dan masuk islam lagi. Begitu juga doa saya. Hani berpisah dari
suaminya karena rupanya dia lah yang menyebar luaskan kabar buruk itu. saya dan
hani akhirnya menikah karena persyaratan
yang telah saya penuhi dan juga dia memang di ciptakan dari tulang rusukku.
Alhamdulillah”….
Pak Ramadhan menitikkan air mata mengakhiri cerita itu. aku
juga. Dia berpesan agar aku jangan pernah menyerah. Lagi-lagi “Manjadda Wajadda” sebagai pedoman nya
walau konteks masalah nya dalam masalah asmara. Aku menjadi semangat kembali
untuk meraih apa yang aku dambakan, ku tepiskan semua ragu dan bimbang agar
jalan terang menghampiriku.
Aku lantas berpamitan setelah berucap beribu terimakasih pada
beliau.
Ku keluarkan
puisi yang tadi ku buat tanpa sadar. Ku genggam dan ku renungi. Ini adalah
bukti kecil akan cintaku yang besar. Aku mungkin masih tak bisa menghadiahkan
harta berlimpah pada sinta. tapi setidak nya ini merupakan harta juga karena
aku membuat nya dalam ketidak sadaran ku memikirkan nya. aku tersenyum dan
berniat menitipkan nya pada indi agar di berikan pada sinta. namun baru saja
langkah ku keluar dari pelataran parkir masjid, mataku menatap dua sosok anak
manusia sedang berboncengan mesra di halaman kampus, Darma dan sinta. aku mengurungkan niatku seraya bersembunyi
agar aku tidak kelihatan mereka. Dalam persembunyian itu hatiku gerimis lagi
karena belum mampu menyentuh hati sinta.
Aku tiba-tiba merasakan pusing di bagian kanan kepala ku,
pandangan ku menjadi sedikit gelap dan akhirnya aku jatuh tak sadarkan diri di
pelataran parkir sambil menggenggam puisi itu.
“Aku sangat mencintaimu Sinta”.. itu kalimat terakhir yang
terucap dari bibir ku.
***Ini
perjuangan ku hari ini !!!
To be
continued in My other struggletions!!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar