Sabtu, 13 Oktober 2012

Ku Damba Dirimu Di Surga

Ku Damba Dirimu Di Surga

Gerimis mengundang haru di bumi khatulistiwa. Mendung menyanyikan lagu kasih pada tanah gersang nya. Rinai nya sejuk, lembut dan terkadang lelapkan jiwa. hawa yang biasanya ganas kini berlutut di bawah kaki hujan. Bukan karena tak kuasa berkoar lagi tapi karena relung hati 
nya telah basah dengan gerimis cinta.yah gerimis cinta.
“Aku mencintaimu Tiara “ !! fadhil terpejam mengucapkan kalimat itu.
Tiara bangkit dari duduk nya, ia dekati fadhil, menatap mata sendu nya, mencoba mencari kebenaran kata-kata barusan.
“Apa Dhil? Aku tidak mendengar?” tiara berharap fadhil mau mengulanginya.
“Aku Mencintaimu Tiara” ! kalimat itu keluar lagi.
Fadhil masih terpejam. Di hadapannya tiara dengan senyum penuh arti menitikkan air mata tak percaya akan apa yang barusan fadhil katakan.
“Kamu serius Dhil”? tanya tiara belum percaya.
Fadhil membuka mata. Ia kaget melihat tiara menangis. diangkat tangan kanan nya berniat mengusap air mata tiara yang jatuh.
“Jangan dhil ! kita belum halal !” fadhil menurunkan tangan nya.
Tiara mengusap sendiri Kristal itu. Ia berbalik membelakangi fadhil. Tak ingin zina mata terjadi.
“Aku Juga mencintaimu Dhil !” tiara kembali menangis. Perasaan nya sangat bahagia.
Kepalanya menunduk. Di dekap kedua tangan nya di dada berharap syaitan tak akan mengganggu moment indah kali ini.
“Alhamdulillah ya Allah !” fadhil bertahmid. Di sujudkan kepalanya di tanah lembab yang baru terkena hujan. Ia sangat bersyukur karena ternyata perasaan nya bersambut. Kini ia bagaikan adam yang baru saja bertemu hawa di padang sahara. Indah , bahagia dan tentunya bersyukur.
***
“Bangun abang..bangun !!”. Nurmala, adik fadhil gusar melihat abang nya tak juga sadar.
Fadhil membuka mata perlahan. Pipinya basah. Di hadapan nya kini Nurmala sedang resah.
“Abang dimana Mala ?” bibir fadhil berucap.
“Abang di rumah . maaf jika mala mengganggu tidur abang tapi abang belum sholat isya”.
 fadhil menggaruk kepalanya, menyingkap selimut separuh.
 Ternyata dia hanya bermipi.
“Astaghfirullahal adzim !” fadhil meringis.
“Abang kenapa? Abang mimpi buruk?” mala bertanya.
“Tidak apa-apa mala. Abang hanya menyesal karena belum sholat” .
fadhil berbohong tak ingin mala tahu tentang mimpi nya.
“Sekarang jam berapa?” fadhil bertanya.
“sudah Jam tiga lewat lima belas bang.”
Fadhil turun dari ranjang, berjalan memasuki kamar mandi. membasuh muka dan berwudhu,
Dia melihat wajah nya di cermin sebelum keluar. Ingatan nya kembali pada mimpi tadi. Di usap muka nya berkali-kali berharap kelak ia benar-benar mampu menyatakan perasaan itu.
Di luar nurmala membaca alquran. Mungkin dia baru saja shalat thajjud.
Fadhil membuka lemari, mengambil kain sarung. Sajadah yang terhampar di kasur ia ambil, ia hampar dan sholat isya.
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (syurga) (QS An-nur : 26)”
Pipi fadhil basah. Sepotong surat cinta dari ALLAH ini membuat dia sadar bahwa dia belum pantas buat tiara. Gadis itu terlalu baik, soleha, alim, berakhlak mulia dan terlalu sempurna.
Dia rukuk, I’tidal kemudian sujud.
Dalam sujud nya ia memohon agar Allah menjaga Tiara. Meski sampai detik ini ia belum mampu mengungkap perasaan nya. Dia bisu, dia gugup, dia merasa tak pantas ketika berhadapan dengan gadis impiannya. Jangan kan berucap cinta, mengucap salam saja teramat susah.
Biarlah cinta ini Allah yang menyampaikan dengan sejuta cara-Nya. fikir fadhil.
 
***
Bak adam dan hawa. Ternyata Tiara kini merasakan hal yang sama. Bermimpi bertemu fadhil dan mengungkap kan benang cinta nya  yang kusut. Setelah shalat istikharah, dia buka diary nya, menulis kan sejuta doa agar Allah mengabulkan harapnya.
Untukmu Yang Selalu Kunanti...

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...


Bila  letih yang kurasa kini, aku yakin kau juga merasakannya. Letih menunggumu. Letih menunggu janji Allah untuk secepatnya mempertemukan kita dalam kesempatan untuk menggenapkan separoh dari agama ini. Lelah… dan teramat lelah….!!!!
Itulah yang sekarang kurasakan. Lelah untuk tetap menjaga hati dan iman ini. Lelah untuk istiqomah menanti hingga janji Allah tiba. Lelah untuk tetap tersenyum dalam menghadapi setiap godaan.
Di tengah kelelahan itu, izinkan aku sekedar melukiskan kekeluan hati yang sulit terucap dengan lisan. Dan izinkan pula aku sedikit mengutip surat cinta dari Allah, sebagai penawar dari bisa cinta yang tak pernah terungkap dari bibirmu.

Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara
kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba
sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. Jika mereka miskin ALLAH akan mengayakan
mereka dengan karunia nya. Dan Allah Maha Luas
(pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)”
Lelah…!!! Dan teramat lelah….!!!!

Untuk sebuah penantian yang aku sendiri tidak tahu kapan berakhirnya. Selaksa doa yang terus terlantun seakan menjadi arang untuk mengobarkan asa. Sebuah harapan untuk segera menemui hari yang paling membahagiakan. Ya… Hari pernikahan. Hari dimana kita bisa menunpahkan segala rasa cinta yang ada dengan halal dan penuh ridha Allah.

Selaksa doa dalam sujud harap tak pernah lekang di tiap sepertiga malam terakhirku. Mencoba mengadu pada tiap doa yang terlantun. Mencoba mengiba dalam tiap tangis yang terus membasahi sajadah. Dan Mencoba bertanya dalam heningnya istikharah.
walau hati ini mencoba mengeja setiap rencana Allah. Tapi satu keyakinan yang akan terus membuatku tersenyum di tengah hati yang semakin lelah. Janji Allah mungkin tidak datang dengan “SEGERA”. Tapi akan selalu datang dengan “PASTI”. Seperti apa yang telah Allah janjikan dalam surat An-Nur : 26. Sekarang, aku memang tidak tahu perasaan mu kepadaku. Tapi aku yakin, kau akan dipertemukan Allah denganku saat masing-masing kita telah baik di mata Allah.
Di tengah lelahnya hati ini, izinkan aku tetap menunggu mu dengan iman yang tak pernah surut. Meski kadang godaan rasa putus asa terus menghinggap di hati. Aku hanya perlu menyandarkan cinta dan harapan pada Allah. Karena, menyandarkan harapan pada manusia hanya akan menemui kekecewaan. Biarkan penantian yang aku sendiri belum tahu kapan berakhirnya ini menjadi ladang ibadah yang disediakan Allah untukku. Dan orang-orang yang sedang menanti sepertiku
Terus perbaiki diri akhi Fadhil….
Aku masih setia menantimu.


Mata tiara terkatup, mengkhiri selaksa doa nya dengan senyum.
***
          Fajar baru saja menyingsing di ubun-ubun, ketika dua mobil Honda jazz memasuki pelataran rumah Tiara. Dua orang paruh baya mengapit seorang pemuda ganteng yang sedang  berucap salam. Pintu terbuka. Untaian senyum tersulam menyambut tamu istimewa.
Pemuda itu bernama zulikifli. Seorang ustad muda lulusan mesir yang kini berrtandang ke rumah seorang bidadari jelita untuk menyampaikan titah mulia.
Zulkifli duduk sendiri penuh harap. Orang tuanya berlainan sofa di samping kanan, orangtua tiara di sampingkiri dan tiara sendiri tepat di hadapan nya.
Tanpa basa-basi di utarakan lah niat zulkifli, jika ia ingin mengkhitbah tiara. Ayah tiara yang mendengar nya  tersenyum bahagia. Kemudian tiara di persilahkan untuk menjawab pengkhitbaan itu..
“ustad zulkifli yang Allah muliakan. Maaf jika saya tidak bisa menjawab sekarang. Mungkin Biar Allah saja yang akan menjawabnya”  Tiara menjawab lirih..
“Maksud ukhti?” Ustad zulkifli menyela.
“saya akan istikharah dulu. jika Allah meridhai pasti semuanya akan berjalan sebagaimana ketentuan di laukhul makhfudz sana !”
Zulkifli memaklumi dengan mata sedikit kecewa.
“sampai kapan saya harus menunggu ukhti?” zulkifli mencari kepastian.
“Emhh,, insyaallah jika dalam seminggu saya tidak mengabari apapun pada ustad, maka itu berarti saya menerima lamaran ustad ”
“Baiklah jika memang begitu, saya akan menunggu !” .
Tiara tersenyum dalam keterpaksaan, hatinya menagis. Tak ia sangka jika keinginan nya merenda masa depan bersama fadhil sebentar lagi hanya tinggal mimpi. Sulaman kebahagiaan yang ingin ia jalani bersama fadhil  harus menjadi benang kusut kembali, di hempas titah mulia yang di tawarkan zulkifli.
Dia tak tau harus berbuat apa? Menolak ! rasanya tidak mungkin karena secara agama zulkifli telah sempurna. Hanya kepasrahan yang ia jadikan tangga untuk menggapai kebahagiaan kini
Tiara menangis sendiri di kamar setelah prosdsi itu usai. Matanya tak henti berkeringat menyampaikan ketidak sanggupan nya mengubur harapan yang ia bangun. Samar-samar ia ambil handphone nya, menelpon seseorang agar menemaninya dalam ketidak pastian itu.
Seorang gadis berjilbab merah muda masuk ke kamar tiara. Dia begitu anggun meski tanpa make up apapun. Di hampirinya tiara yang sedang mendekap kedua lutut nya.
“ Mbak tiara kenapa” Gadis itu penasaran.
Tiara tak menjawab. Mata nya kian berkaca-kaca. Sesekali airmata nya tumpah membasahi tepian jilbab biru nya. Gadis itu duduk di hadapan tiara.
“Mbak kenapa?” gadis itu mengulang.
“Mbak baru saja di khitbah ustad zulkifli mala !” tiara menatap Mala dengan mata basah.
Mala tersentak. Muka nya merah. Kebisuan juga menderanya saat kalimat barusan terlintas.
“ sekarang tolong mbak mala. Mbak sangat mencintai kakak mu, mbak sangattttt mencintainya “ tiara mengiba di hadapan mala. Matanya tak henti menangis
“kamu harus tahu mala, jika mbak hanya ingin dia yang menjadi imam buat mbak, mbak tidak mau yang lain. Jadi tolong sampaikan salam cinta ini pada nya. Jika dia juga memang merasakan nikmat cinta yang di berikan Allah ini maka mbak tunggu kepastian cintanya kurang dari seminggu, sebelum mbak benar-benar menerima ustad zulkifli.”
Tiara sesungkan. Belum pernah ia sesedih ini.
“Tapi apa Mbak yakin !” mala mencoba berkomentar.
“mbak sangat yakin mala”. Tiara berdiri. Mebuka laci dan mengambil Diary nya.
“sampaikan ini pada abang mu. Semoga dengan ini dia bisa faham akan Perasaan mbak”.
Ragu-ragu mala mengambil diary itu. dia tak berkomentar lagi, hanya deraian tangis yang mengalir menyaksikan cinta yang tak pernah terungkap antara abang nya dan tiara.
***
Galau tak bertepi kini menyerang seorang pemuda yang sedang mengerjakan skripsi nya di depan komputer. Jemarinya terus mengetik, mata nya fokus, namun sayang  alam fikir nya terbang kembali pada mimpi yang baru saja dia alami. Di teguk secangkir kopi di samping nya. Jemarinya melepas keyboard, di alihkan pada permukaan meja dan dimainkan nya bak tapak kaki kuda.
“Tiara ,, aku sangat mencintaimu.,,tapi mengapa begitu berat untuk mengungkap kan nya?” fadhil mendesah perih. Matanya kosong sekali.
“Abang harus bdrani mengungkapkan nya”. Mala menyahut dari balik pintu.
Fadhil menoleh kaget. mala masuk dan duduk di samping fadhil. Fadhil berbalik menatap ke arah adiknya..
“Apa maksud mu mala?” fadhil berpura-pura.
“sudahlah abang, jangan menutupi nya lagi. Mala tau abang sangat mencintai mbak tiara. Namun sampai detik ini abang tak berani mengunggkapkan nya” tukas mala.
Fadhil tertunduk mendengar penuturan mala. Tiara makin berkoar.
“Ini bang ada titipan dari mbak tiara!” mala menyodorkan sebuah diary berwarna merah muda.
“Apa ini mala”? fadhil tak paham.
“Ini diary mbak tiara. Dia menyuruh mala memberikan nya pada abang, menurutnya dengan diary ini abang akan faham akan isi hati nya”.
Fadhil mengambil diary itu.  sejenak ia pandang, Ada tulisan “FARA” di pojok atas sampulnya.
Dia terkesiap, dibuka lembaran pertama. Tertulis “Fara= Fadhil & Tiara”. Hatinya menangis  haru. di lembar ke dua dan seterusnya ada curahan hati tiara yang sangat mendambakan kejujuran fadhil. Sampai pada lembaran ke 49 air mata nya tak terbendung lagi ketika membaca doa agung yang kemarin malam tiara panjatkan. Sungguh mendayu-dayu, Indah namun juga menunjukkan kelelahan yang sangat kronis. Betapa selama setahun ini dia memendam perasaan nya pada fadhil. Betapa ia tak ingin mengungkapnya karena kodrat nya sebagai wanita. Dan yang lebih perih, Betapa lelah, letih, bercampur rindu di genggam nya ketika cinta itu semakin hari semakin menggunung. Subhanallah.
“cepatlah bertindak bang, sebelum semuanya telat!” mala menggugurkan keterpanaan abang nya.
Fadhil mendongak  tak mengerti. Di tutup diary itu lalu kembali pada perbincangan, Belum saja dia faham akan penuturan mala. Adiknya kembali menyambung.\
“Mbak tiara sangat berharap jika abang akan menagih cinta nya secepat mungkin, karena tadi pagi ada seorang lelaki bernama zulkifli datang mengkhitbah nya. Mbak tiara belum memberi jawaban yang pasti karena dia sangat berharap jika abang yang akan mencalonkan diri sebagai imam hidup mati nya. Jadi saran mala, cepatlah kejar cinta nya bang”.
Fadhil kaget. Matanya kembali nanar. Kebisuan mendera bibirnya. Bukan nya semangat yang ia peroleh mendengar penuturan mala tentang tiara, malah kelemahan dan ketidak pantasan yang ia rasakan. Dia menjadi rendah diri untuk mengejar cinta tiara apalagi bersanding dengan nya.
Disusul juga nama zulkifli. Seorang ustad sekaligus dosen yang baru masuk di kampusnya.
Lengkap sudah kegagalan dan ketidak pantasan itu ia rasakan. Masyaallah.
“abang menyerah mala. Abang ikhlas dia bersama ustad zulkifli”.
“Tapi bang !” mala menyela. Mata gadis ini tiba-tiba basah menyaksikan takdir akan mengubur perasaan abang nya.
“Ustad zulkifli itu orang yang lebih baik dari abang, lebih siap dari abang”  fadhil sesungukan.
“ Kalau bang fadhil berani tegas. Memilih lah . Jika abang cinta dan berani mengungkapkan pada mbak tiara masalah selesai bang.” Mala menguatkan fadhil.
“Sudahlah mala. Abang tak pantas buat nya”.
Keduanya tak berucap lagi. Fadhil menangis tertunduk. Begitu pula mala. Biarlah kisah tak sempurna ini di sempurnakan Allah Kelak…karena
“Sesungguh nya Rezeki, Jodoh dan Maut sudah di tentukan oleh Allah di Zaman Azali sana”..
Subhanallah
***
Matahari terbit menjalani takdirnya, bumi berputar bersama poros nya, bulan bintang juga tetap bersinar menemani langit kelam di  setiap malam nya, sedangkan hari demi hari terlewati bagai kapas putih yang di terpa angin semusim.
Tiara yang tak kunjung menyambut pesan indah dari fadhil akhirnya menerima lamaran dari ustad zulkifli. Meski pedih, tapi jika ini yang terbaik maka mau tidak mau dia  harus siap lahir dan batin. Biarlah harapan merenda hari tua bersama fadhil ia jadikan bingkai kemesraan yang mati di tengah jalan. Bukan kah cinta sejati tak selamanya harus memiliki tapi kadang juga harus mengikhlaskan cinta pergi.
Seluruh keluarga turut bahagia mendengar kabar indah tersebut. Apalagi tersiar kabar jua jika pernikahannya akan di laksanakan sebulan setelah nya. Bagi zulkifli, dunia seakan surga nyata. Tapi bagi tiara dunia sekarang tak ubah nya neraka yang siap merajam hatinya.
Hari – hari penuh gelisah di lalui gadis berlesung pipit ini. Mulai dari menentukan hari baik, fitting baju pengantin, menyiapkan tempat resepsi, sampai menyebar undangan kemana-mana. Tak ada sedikitpun rasa bahagia menyerap pori-pori kalbunya. Meski waktu beranjak semakin jauh meninggalkan kisah tak sempurna nya bersama fadhil.
Sedangkan fadhil. Lelaki soleh ini cuma bisa menelan ludah pahit saat mendapatkan undangan yang bertuliskan nama pujaan hatinya dan zulkifli. Dia semakin terpuruk sedih karena rupanya ia juga mendapat daulat untuk mengisi salah satu agenda acara di pernikahan tersebut.
Pedih  dan teramat pedih.
Allahuakbar
***
Teruntuk Calon Imamku,,
Duhai engkau yang ada disana ,jika benar itu engkau ,yang telah Allah pilihkan untuk mendampingiku,,Maka telah ku persiapkan hati ini menyambut cîñtâmû..
Ketika ku mendampingimu kelak harapan ku hanyalah agar aku mampu menjadi yang terbaik untukmu, Semoga diriku menjadi penenang bagimu, Wajahku menjadi kesenangan bagimu,Mataku menjadi keteduhan bagimu dan genggaman tanganku menjadi pelepas keresahanmu, Aku hanya ingin kau yang bertahta dihati ini ...
Aamiin ya Rabb.
Tiara menyenandungkan bait-bait doa terakhirnya, sebelum esok jam tujuh pagi dia akan benar-benar di imami oleh zulkifli. Matanya tak henti menangis. Sudah seminggu terakhir dia  berdiam seorang diri. Tak pernah tidur, makan atau pun sekedar bermake up. Baginya hidup kini hanya sebatas pelarian dari surga ke bumi. Yang awalnya indah, megah, nikmat, dan penth keceriaan menjadi buruk, gersang, pedih juga di selimuti kesedihan. Sungguh tak kalah dengan Layla ketika di pisahkan dari Majnun.
Usai berdoa dia rebahan di atas sajadah. Kedua tangan nya memeluk mushaf. Mata nya tak henti menangis. Mukenah nya masih ia kenakkan. Sesekali nama fadhil ia sebut lirih di iringi deraian air mata yang gugur dari kelopak matanya. Begitu besar perasaan cintanya pada pemuda itu.
terkenanglah suatu peristiwa yang mempertemukan dia dan fadhil.
hari itu dia menghadiri pesta pernikahan sahabat nya Farah. Dia duduk di kursi nomor tiga dari depan kuadi. Matanya terbinar bahagia menatap sahabat nya yang sudah bisa bersanding dengan imam pilihan hatinya. Saat semua undangan terpana melihat ke dua pengantin, tiba-tiba lampu mati. Gelap, Gulita. Seorang pemuda berpeci abu-abu berkoko putih datang dengan membawa lilin di tangan kiri dan microphone di tangan kanan nya. Ia berucap salam. Tapi salam nya berupa nada-nada indah yang hentakkan jiwa. Rupanya dia bernyanyi. Merdu sekali, indah sekali. bak alunan nyanyian telaga surga ketika semua mahluk menahan dahaga di hari kiamat.
Tiara bisu seketika menatap pemuda itu. hatinya bergetar hebat saat tanpa di sangka lampu hidup kembali dan mata mereka beradu. Tiara tersenyum manis. Pemuda itu juga. Dan hati mulai tertambat seiring nyanyian klasik penegur jiwa di senandungkan fadhil. Yah pemuda itu fadhil.
Sejak itulah mereka mengagumi, menyayangi dan mencintai masing-masing, meski hanya dalam diam, dalam kebisuan serta dalam ketidak mampuan menahan rindu yang berkepanjangan.
“Asshaduallailahaillallah waashaduanna muhammadarrasulullah..aku mencintaimu fadhil !”
Mata tiara terkatup. Bibirnya tersenyum manis. Dan wajah nya cerah bak mawar di taman surga.
***
“Pagi ku tak sesegar pagimu,karena pagi ku kelam.
Sore ku tak pula seteduh sore mu,karena soreku suram
Dan malam ku tak seindah malam mu,karena bintang hatiku terbenam.”
Pesta berakhir. Akad tiada. Mercon dan derum bunyi nyanyian pelengkap memory jiwa musnah.
Seluruh keluarga berduka. Air mata tumpah bagaikan tsunami menerpa aceh.
Cinta yang suci telah kembali pada hakikatnya. Cinta yang tak pernah di ungkap oleh seorang tiara meski godam harapan menancap dalam di ulu hati,.
Tiara gadis cantik ini terlelap untuk selama-lamanya. Memeluk mushaf alquran. Membawa cinta sucinya ke surga. Dia pergi tak tinggalkan kesan hanya senyum penuh bahagia dan wajah secerah syuhada yang sahid di medan perang yang menunjukkan keadaan nya.
Dia syahid. Ryahid dalam cinta. Laksana qais yang syahid karena layla.
Subhanallah … cinta yang tak terungkap di bawa nya kesurga. Biarlah dia mendamba Fadhil di surga sana. Jika Allah berkehendak, maka Allah akan mempertemukan kembali mereka di alam penuh maya, di alam penuh cinta  dan di alam penuh suka cita.
“Ku Damba Dirimu Disurga”
begitulah pesan terakhir berupa catatan kecil yang dia selipkan di lembaran mushaf kecilnya…….

1 komentar: