Rabu, 17 Oktober 2012

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Bismillahirahmanirrahim

Wahai kekasih yang telah sejuta tahun aku dambakan.
Kali ini biarkan aku berbisik manja dalam tahajjudku
Mengharap agar kelak kau halal bagiku
Dan menyelamatkan hatimu dari sulaman benang syaitan yang butakan jalanmu
Demi Allah aku mencintaimu karena tak mau kufur atas nikmatnya
Nikmat yang tidak bisa kita atur jalan nya.
Hingga hati ini seakan menjadi bingkai atas sejuta cinta  yang karena ALLAH
Langit bermuram durja. Meski bintang tetap bergantung di langit. Malam seakan mencekam walau sejuk malam menciptakan aroma keindahan. Ku tanya langit kenapa ? ia tak menjawab. Kutanya malam kenapa ? ia tak menjawab pula. Sebenar nya kenapa dengan mereka? Apa mereka ikut hanyut dalam kegalauan yang kini aku rasakan. Atau mereka hanya berduka karena sebentar lagi mentari akan terbit.
Ketika keraguan menyihir langkahku. Ku paksa harap ini bangkit dari kiamat sugro yang tenggelamkan iman. Aku berdiri tanpa harap. Ku pandangi sebuah foto yang ku pajang besar di lemariku. Ku lihat senyum nya begitu manis, semanis madu. Ku tatap wajah baby face nya yang tak ayal buat ku bodoh lagi.
Yah aku memang bodoh. Bodoh karena tak mampu ungkap perasaanku. Bodoh karena lagi-lagi aku tak mampu mengcover hatiku dari kaum hawa. Padahal sejak pertama kali aku menginjak kan kaki di kota ini untuk kuliah, aku telah bersumpah untuk menutup perasaan ku dalam-dalam dari wanita.
Tapi, Semenjak pertemuan pertama di acara Ospek dengan seorang wanita berjilbab putih yang mampu getar kan hatiku. Sedikit pun mataku tak mampu untuk ku pejamkan. Karena semakin ku pejamkan cahaya matanya yang syahdu akan semakin meluluh lantakkan semua pondasi komitmenku.
Aku melangkah keluar kamar. Menysiri tangga dan Naik ke atas atap rumah. Aku duduk bagai pungguk bodoh yang merindukan bulan. Mataku tak lepas memandangi bulan sabit malam ini. Mungkin aku ingin mengubah sebuah kutukan di hidupku, yang menyatakan bahwa aku hanyalah seokor pungguk dan seluruh wanita di dunia ini adalah bulan.
bukan tanpa alasan semua ini terkutuk di takdirku. Semua berdasar pada apa yang aku miliki. Karena aku hanya lelaki biasa yang tak memiliki apapun.
Jangan kan harta melimpah untuk makan saja kadang aku harus menjadi pengamen di jalanan. Sungguh miris ! Dan semua itu menjadi sempurna dengan keadaan fisik yang pas-pasan serta otak yang ku fikir nol.
Tapi kenapa sekarang aku malah jatuh hati pada seorang wanita ? kenapa ?
Apa aku tidak pernah berkaca siapa aku ? apa aku tak pernah mengukur kulitas ku?
aku hanyalah lumpur kotor yang meski di daur ulang tak akan menjadi sesuatu yang berharga. Kenapa begitu gila nya aku? padahal aku tak memiliki apapun yang dapat di banggakan selain cinta dan sayang yang menjulang tinggi. akhh sungguh hal yang sangat bodoh.!!
Aku tergagap ketika sayup-sayup adzan subuh membuyar kan lamunan ku. Aku beristghfar lirih karena telah berfikiran seperti orang tak berpendidikan. padahal aku telah semester dua. Apa masih Pantas kah aku berfikir seperti itu??jika masih, berarti aku sama saja tidak bersyukur atas apa yang Allah berikan pada Ku. dan Atas apa yang Allah tuliskan dulu di zaman azali.
aKu  putuskan untuk sholat subuh dulu. Baru setelah itu langkah demi langkah akan ku tempuh untuk pecah kan kegundahan ini.
Usai sholat ku ambil secarik kertas dan kutulis kan semuanya disini.
Bismillahirrohmanirrohim
Teruntuk engkau yang aku cintai.
Ketika kau masih tak mampu menghalalkanku.. Ijinkan aku berbicara tentang cinta padamu.
Wahai yang aku cintai.
Sesungguhnya kata kata cintamu tak menjadi mata air yang jernih di padang sahara hatiku, tetapi justru menjadi percikan api yang setiap saat mampu membakar diriku.
Membakar rindu yang seharusnya untuk Rabb-ku.
Membakar cemburu yang seharusnya untuk Rabb-ku.
Membakar semangat yang seharusnya hanya karena Rabb-ku..
Wahai yang kucintai.
Ungkapan perasaanku tak membuat bunga-bunga di taman hatiku merekah. Tetapi justru membuat bunga itu layu sebelum mekar. Duri-duri bunga itu seketika tumpul. Lemah dan tak mampu lagi melindungi sari bungaku..
Wahai yang aku cintai.
Sungguh kata- kata cintamu setajam pedang  umar bin khatab yang siap menebas apapun. Tidak-kah kau ingin mengalihkan pedangmu itu untuk menebas ku. Tidak-kah kau ingin mengalihkan pedangmu itu untuk menebas nafsu dan gejolak hati yang kini meresahkan jiwaku ? hingga membuatmu menganiaya diri ku sedemikian rupa.
Wahai yang aku cintai.
Aku bukan malaikat yang tak memiliki hawa nafsu. Aku hanyalah manusia biasa yang juga menginginkan cinta. Kehadiranmu kuakui memang mampu memberi sebuah warna. Tapi entah mengapa itu jugalah yang membuatku tersiksa. Bukan aku tak mampu menghargai apa yang kau rasa. Tapi bukankah dengan begitu aku akan gagal mempertahankan hatiku yang selalu ingin terjaga.
Wahai yang ku cintai.
Tidak-kah kau ingin cinta itu sesuci cintanya Ali dan Fatimah ?
Dalam diam mereka mencinta.
Dalam rindu mereka berdo’a.
Jika karna cinta kau mampu menjadi seorang pujangga. Tidakkah kau ingin mempersembahkannya kepada cintamu yang sesungguhnya .. Allahu Rabbi.  tak tahukah kau bahwa cemburu-Nya teramat luar biasa.
Wahai yang aku cintaI.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Ya Allah, seandainya telah Engkau catatkan dia milikku dan tercipta buatku, satukanlah hatinya dengan hatiku, titipkanlah kebahagiaan antara kami, agar kemesraan itu abadi.
Tetapi Ya Allah, seandainya telah Engkau takdirkan Dia bukan milikku, bawalah dia jauh daripada pandanganku, luputkanlah dia dari ingatanku dan peliharalah aku dari kekecewaan.
Ya Allah Ya Tuhanku yang Maha Mengerti
Berikanlah aku kekuatan.
Menolak bayangannya jauh ke dada langit, Hilang bersama senja yang merah. Agar aku senantiasa tenang, Walaupun tanpa bersama dengannya. Pasrahkanlah aku dengan takdir-Mu.
Ya Allah aku mencintai nya Karena MU dan aku ikhlas merelakan nya karena Mu pula.

          Alhamdulillah. Mungkin ini jawaban atas doaku selama ini. Aku yang tak mampu bicara apapun di hadapan nya akan mencoba membuka tirai hatiku melalui surat ini. Semoga dia faham akan hatiku yang selama ini menyukai,menyayangi,mengagumi dan mencintai nya.  Alhamdulillah ya Allah .
          Hari ini hari minggu jadi tak ada jadwal kuliah. Sebenarnya aku ingin memberikan surat ini padanya pagi ini, tapi karena takut terlalu mendadak maka ku urungkan niatku. Biarlah nanti sore aku kerumah nya agar semua rasa gelisah yang mendera jiwaku punah dengan jawaban dari nya.
          Matahari beranjak seakan lama sekali. Detik demi detik ku tunggu. Menit demi menit ku n anti namun sore yang ku damba belum juga tiba. Aku yang iseng memutusan untuk pergi ke Perpustakaan umum untuk membaca buku. Baru satu rak buku yang ku cari, tiba-tiba pandangan ku tertuju pada seorang gadis mungil, dengan jilbab kuning membalut mahkota nya.
“Mbak Sinta”!! tegur ku pelan.
“ Eh De’ Angga !!” jawabnya.
“Udah lama mbak?” tanya ku.
“ baru saja dek,,eh koq gak ngajak-ngajak sie kalau mau kesini”? tanya nya balik.
“Emhhhh,,,ammmhhh,,,” aku tak tau harus menjawab apa. Karena setiap aku menatap mata dan senyumnya. Aku menjadi bodoh dan diam seribu bahasa. Entah kenapa tapi aku syukuri semua ini karena rasa ini dari Allah. Bukan kah orang yang mengkufuri nikmat NYA akan mendapat adzab.
“Koq diam kamu dek”? suara mbak Sinta buyarkan lamunan ku.
“ehh..ahhh enggak apa-apa koq mbak, saya Cuma ingat sesuatu” jawab ku berdalih.
“ Sesuatu apa dek?”
“Ahh gak penting koq mbak.. yang penting sekarang apa boleh saya duduk disini?” aku menunujuk kursi di samping nya seraya tersenyum.
“oh iya boleh-boleh”. jawab mbak sinta senang.
Langit belum juga mendung tapi hatiku telah gerimis akan perasaan cinta. Duduk di samping mbak sinta sungguh benar-benar membuat ku gelisah. Antara perasaan takut bercampur bahagia. Akhh andai dia tau bahwa aku sangat mengidolakan sekaligus mencintainya. Pasti semua akan berbeda.
Tiba-tiba ada perasaan aneh yang menyusup ke kalbuku. Yakni perasaan takut jikalau dia tau hatiku. Perasaan takut jika dia juga menolak perasaan ku. Padahal andai dia tau aku mencintainya seperti sayyidina Ali mencintai Siti Fatimah, maka mungkin hatinya akan bergetar hebat karena cintaku sejernih telaga air kautsar di surga sana. Cinta yang tak pernah ku kotori dengan nafsu. Cinta yang ku dambakan menjadi tabib dari kegersangan hati ku. Karena aku telah berjanji jika dia memiliki perasaan yang sama padaku, Maka akan ku muliakan dia seperti adam memuliakan hawa. Akan ku jaga dia sebagaimana sulaiman menjaga balqis. Dan akan ku cintai dia seperti baginda rasulullah mencintai siti khadijah.
“Astaghfirullahaladzim” aku berucap dalam hatiku, berharap apa yang aku takutkan tadi tak akan terjadi.
Berjam-jam telah berlalu. tapi sedikitpun aku tak mampu berkata apa-apa selain hanya sesekali menatap wajah nya yang cantik. Bagiku secantik layla yang menjadi penyebab gila nya Majnun.
“Akh kenapa bodoh sekali kau Angga..padahal ini lah saat nya menyatakan perasaanmu!” satu sisi hatiku berkata dengan lantang nya di batinku. Aku menjadi bingung antara perasaan mau dan tidak mau. Tapi tiba-tiba menyusul satu sisi lain yang menyuruh aku bersabar dulu . Ahh aku jadi bingung.
Aku putuskan untuk pulang seraya bangkit dari kursi disebelah mbak Sinta.
“Mau pulang dek ?” tanya Mbak sinta reflex melihat aku yang aneh.
“iiiiii….iii…iya mbak !” jawab ku terbata.
“Oh sama-sama mbak saja. Lagian rumah kita kan searah”. aku kaget mendengar pernyataan nya. Memang sudah sering kami jalan dan pulang bersama. Tapi kali ini berbeda karena tepat hari ini aku akan mengungkapkan perasaan ku pada nya. Aku yang tak tau harus menjawab apa hanya mengangguk dan setelah itu kami beranjak pergi dari perpustakaan.
Diperjalanan pulang aku masih bodoh dengan tak bisa berkata apa-apa. hanya sedikit senyum dan beberapa gurauan  kecil yang kami lakukan. Aku merasa aneh dengan moment kali ini karena mbak sinta seakan tau jika aku akan menyatakan cinta padanya. Makanya dia seeolah memancing aku untuk berani berbicara jujur di hadapan nya. Namun Aku tetap saja diam seribu bahasa.
Ketika kami sampai di depan rumah mbak sinta. Entah kenapa aku yang di tawarkan mampir mengiyakan saja ajakan nya. Padahal sebentar lagi adzan maghrib berkumandang.
Aku duduk di samping mbak sinta. Dengan perasaan yang mulai jemu atas kegelisahan ini, aku beranikan untuk memulai segalanya. Ku tundukkan kepalaku. dan ku raba saku dimana aku  meletakkan surat ku tadi. Tapi…..aku terkejut setengah mati ketika ku rasa surat yang aku buat tadi subuh tidak ada.
“Kemana ?” tanya batinku. Akhhh betapa bodoh nya aku surat  itu bisa tertinggal entah dimana. Padahal tadi aku merasa sudah memasukkan nya ke dalam saku ku. aku menjadi Idiot beberapa saat Karena tak menemukan jalan lain untuk menyatakan cinta ini. Namun tak lama aku merasakan ada anugerah keberanian yang merasuk tubuhku. Aku jadi kembali seperti sedia kala, dan pada saat itu ku beranikan menatap mata nya.
“ Mbak !” aku berucap yakin.
“Iya dek ada apa?”
“sebenarnya ada yang saya ingin utarakan. Tapi mohon kira nya saya di maaf kan jika pernyataan ini nantinya akan melukiskan warna beda di hati mu.”
“memang nya kamu mau bilang apa dek?”
“sebenarnya….” Aku terpejam sesaat untuk memastikan perasaanku.
“sebenarnya saya mencintai mbak !” kalimat itu keluar bagai semilir angin malam.
“Apa?”. mbak terperangah. Sepertinya dia kaget dengan apa yang aku ucapkan barusan.
“Maaf jika saya salah dan tidak pantas mengatakan ini pada mbak. Tapi inilah yang saya rasakan selama dua minggu ini. Awal nya saya tidak menyangka jika ini bisa terjadi. Namun saya sadari jika yang berhak atas saya dan perasaan saya adalah ALLAH. Jadi tidak ada alasan saya harus mengkufuri nikmat ini.” Jelasku dengan perasaan tak karuan. Ku tatap mbak sinta yang sedang menunduk. Mungkin dia bingung. Tapi beberapa detik selanjutnya ketika muadzin mulai melantunkan adzan maghrib di masjid dia berucap :
“Mbak tidak tau harus menjawab apa. Karena apa yang mbak dengar kali ini seperti mimpi. Orang yang mbak anggap seperti adik ternyata diam-diam mencintai mbak. Jadi mungkin mbak tidak bisa berkomentar apapun selain satu. Yakni. Mbak sebenar nya juga suka dan sayang padamu.”
Aku seakan mendapat hawa indah dari surga ketika kalimat itu keluar dari bibir mbak sinta. Tapi baru saja kebahagiaan itu muncul tiba-tiba ada yang belum terselesaikan dari ucapan mbak sinta,
“Iya dek ..mbak menyukai dan menyayangimu. Tapi maaf  itu semua hanya sebatas adik dan kakak walaupun nyatanya kamu memang lebih tua dari mbak. Maaf kan mbak jika kalimat terakhir ini membuat adek kecewa tapi inilah mbak. Seorang wanita yang telah lelah untuk menjalani hubungan dengan lelaki manapun. Jadi mbak putuskan untuk tidak berkomitmen dengan siapapun mulai dari sekarang dan entah sampai kapan. Maaf kan mbak sekali lagi.”
Adzan maghrib menjadi saksi akan cintaku yang tak bersambut. Aku tergagap menahan air mata yang jatuh. Ternyata perasaan ku bertepuk sebelah tangan. Walaupun Aku sebenarnya sudah menduga nya dari awal karena dia memang tak layak bagiku. Aku hanya pungguk dan dia bulan. Tidak kah suatu kemustahilan pungguk mampu terbang ke bulan. Namun begitu. Aku masih merasa heran kenapa ALLAH menganugerah kan perasaan sebesar ini. Kenapa perasaan sebesar ini hanya di ilhamkan kepadaku. Kenapa tidak kepadanya juga. Apakah ada aturan jika seorang pungguk tak boleh bermimpi merindukan bulan. Kenapa ???
Aku yang tetap terisak berpamitan karena tak mampu lagi menahan gunung kesedihan menumpahkan larfa nya di hatiku. Aku berlari sekuat tenaga. ku lewati jejeran rumah dengan tangis yang berderai. ku tapaki ketidak adilan bumi  dengan rasa sesal. Sungguh aku merasakan sedih yang tak pernah aku rasakan sebelum nya. Sedih di mana aku hanya bergantung pada harapan mustahil yang tuhan berikan. Akhirnya aku sampai di suatu masjid. Di sana aku berhenti. Ku lihat telah tak ada lagi orang melaksanakan sholat maghrib. Aku masuk setelah sebelumnya mengambil wudhu. Ku laksanakan dua shalat sunnah . dilanjutkan shalat maghrib. Dalam sholat lagi-lagi hatiku hujan akan kesedihan..aku tak menyangka semuanya sia-sia. Aku juga menyesalkan kenapa Allah hanya mengilhamkan perasaan ini padaku. Padahal perasaan ini besar sekali. Aku tambah terisak ketika aku membaca surat ar-Rum . kurasakan depresi cinta yang dalam merajam hatiku. Hingga aku kufur atas apa yang Allah berikan. Ketika sujud ku rasakan Allah mengembalikan kesadaranku. Dan segera menggantinya dengan kesabaran walau sejatinya cinta yang tertancap dalam di hatiku semakin hari akan semakin dalam. Namun dalam sujud itu aku pasrah kan semuanya pada allah.  Jika aku berani mencintainya karena ALLAH maka aku harus ikhlas melepasnya karena ALLAH pula.

“Ketika dunia ini tak mengijinkan aku memilikimu …ku harap ALLAH akan adil dengan semua ini. Karena aku ingin memilikimu walau di surga nanti”
****Terimakasih bangau berkumis.. hanya bersama mu kurasakan Allah begitu menyayangiku dengan mengilhamkan perasaan cinta yang besar ini. Walau kenyataan nya aku tak bisa menjadi pilihan hatimu.
13-03-2012
Ku tuliskan cerpen beserta surat terakhir ini untuk mu karena kemarin kau memintanya.
Setelah ini aku akan berhenti menulis sampai Allah menghilangkan perasaan ini padamu.
Terimakasih..Bangau berkumis. Yakin lah aku selalu mencintaimu dalam semua keadaan.
Bismillahirrahmanirrahim..

1 komentar: